Dari UNISMA ke Universitas Muhammadiyah Indonesia, Ini Sejarah Kampus Tertua di Bekasi

Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi resmi berubah nama menjadi Universitas Muhammadiyah Indonesia/Foto : Dok. unisma.ac.id Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi resmi berubah nama menjadi Universitas Muhammadiyah Indonesia/Foto : Dok. unisma.ac.id

Bekasi, GPriority.co.id – Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi telah menempuh perjalanan panjang sebelum resmi bertransformasi menjadi Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) pada 2026.

Perubahan nama tersebut menjadi tonggak baru dalam sejarah salah satu perguruan tinggi tertua dan terbesar di Kota Bekasi, yang telah berdiri selama lebih dari empat dekade.

Sejarah UNISMA bermula pada 1982, ketika Bupati Bekasi saat itu yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam (YPI) “45” Bekasi, H. Abdul Fatah, mendirikan Akademi Pembangunan Desa (APD). Lembaga pendidikan tersebut awalnya beroperasi di Gedung Juang 45 Bekasi sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayah Bekasi yang sedang berkembang.

H. Abdul Fatah kala itu menegaskan pentingnya pendidikan bagi kemajuan daerah. Ia mengatakan, “Sebuah kota akan maju apabila memiliki sumber daya yang cerdas dan mumpuni.” Pernyataan tersebut kemudian menjadi landasan lahirnya berbagai institusi pendidikan di bawah naungan YPI “45”.

Seiring meningkatnya kebutuhan pendidikan tinggi, APD berkembang menjadi beberapa sekolah tinggi, yakni STISIP, STKIP, STIE, dan STIPER. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0483/O/1987, keempat sekolah tinggi tersebut digabung menjadi Universitas Islam “45” Bekasi. Setahun kemudian, pada 1988, Sekolah Tinggi Agama Islam (STIA) turut bergabung sehingga memperkuat identitas UNISMA sebagai perguruan tinggi berbasis nilai-nilai Islam.

Selama lebih dari 40 tahun, UNISMA berkembang menjadi universitas dengan 7 fakultas, 1 sekolah pascasarjana, dan 28 program studi, termasuk lima program magister. Kampus ini juga memperoleh akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dan menjadi salah satu pusat pendidikan tinggi terbesar di Bekasi.

Babak baru dimulai pada 28 Agustus 2025, ketika pengelolaan UNISMA secara resmi dialihkan dari Yayasan Pendidikan Islam “45” Bekasi kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Proses transformasi tersebut kemudian melahirkan Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) yang resmi mulai beroperasi pada 2026.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa perubahan tersebut bukan sekadar pergantian nama, melainkan transformasi visi yang lebih besar.

“Dari Kota Bekasi untuk Indonesia, kemudian mendunia. Di balik nama itu ada spirit untuk mentransformasikan kemajuan dan tentu juga ini menjadi kekuatan penyangga bangsa dalam kehidupan bernegara. Dari Indonesia, kita akan mendunia untuk berkontribusi menyebarkan Islam yang rahmatan lil alamin,” ujar Haedar Nashir.

Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy menegaskan bahwa alih kelola UNISMA merupakan proses yang telah dipersiapkan sejak lama.

“Alih kelola UNISMA Bekasi ke PP Muhammadiyah berlangsung tidak instan, sebab memerlukan waktu yang panjang dan sesuai prosedur yang berlaku,” kata Muhadjir.

Kini, dengan identitas baru sebagai Universitas Muhammadiyah Indonesia, kampus tersebut menargetkan lahirnya lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi kerja, karakter Islami, dan daya saing global, sekaligus melanjutkan warisan pendidikan yang telah dibangun sejak 1982.