Jakarta, GPriority.co.id – Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) menggelar diskusi publik bertajuk “Ruang Temu AI & Agama” di Kantor DPP PKB, Jakarta, Rabu (15/7).
Forum ini menjadi ruang dialog lintas sektor untuk membahas perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) beserta tantangan dan peluangnya, sekaligus mencari titik temu agar teknologi tersebut berkembang selaras dengan nilai-nilai agama, etika, dan kepentingan kemanusiaan.
Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan pemerintah, legislatif, akademisi, dan tokoh agama, yakni H. Oleh Soleh selaku Anggota Komisi I DPR RI, Dr. Edwin Hidayat A. selaku Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), KH. Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq selaku Pengasuh Pondok Pesantren Minggir, Yogyakarta, serta Prof. Hammam Riza, Ketua Umum Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial Indonesia (KORIKA).
Dalam sambutannya, Anggota Komisi I DPR RI H. Oleh Soleh menilai perkembangan AI merupakan keniscayaan yang harus direspons secara bijak melalui regulasi yang adaptif dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
“AI bukan lagi teknologi masa depan, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan kita hari ini. Karena itu, Indonesia harus memastikan pemanfaatannya memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat tanpa mengabaikan etika dan nilai kebangsaan,” ujar Oleh Soleh.
Sementara itu, Dirjen Ekosistem Digital Komdigi Dr. Edwin Hidayat A. menjelaskan bahwa pemerintah terus membangun ekosistem digital nasional yang mampu mendorong inovasi AI secara bertanggung jawab.
“Pengembangan AI harus berpusat pada manusia (human-centered AI). Teknologi ini harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, bukan justru menimbulkan risiko baru akibat penyalahgunaan maupun lemahnya tata kelola,” katanya.
Dari perspektif keagamaan, Gus Muwafiq mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi, manusia tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab atas penggunaannya.
“Agama tidak menghambat kemajuan teknologi. Justru agama menjadi kompas moral agar ilmu pengetahuan, termasuk AI, digunakan untuk kemaslahatan, bukan untuk merusak kehidupan manusia,” tegas Gus Muwafiq.
Senada dengan itu, Ketua Umum KORIKA Prof. Hammam Riza mengatakan Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu kekuatan AI di kawasan Asia Tenggara apabila mampu memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat.
“Kita tidak hanya mengejar kecanggihan teknologi, tetapi juga membangun AI yang terpercaya, transparan, dan bertanggung jawab sehingga mampu mendukung daya saing Indonesia di tingkat global,” ujar Hammam Riza.
Melalui forum “Ruang Temu AI & Agama”, DPP PKB berharap lahir berbagai rekomendasi strategis yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam menyusun tata kelola AI nasional.
Diskusi ini juga menegaskan bahwa kemajuan teknologi dan nilai-nilai agama bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan untuk mewujudkan transformasi digital Indonesia yang inklusif, berkeadilan, dan berlandaskan etika.
