Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan pentingnya aksi cepat dalam merespons sistem peringatan dini bencana.
Hal itu disampaikannya saat membuka Emergency Disaster Reduction & Rescue (EDRR) Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (12/8).
EDRR Indonesia 2026 merupakan penyelenggaraan ketiga dan berlangsung pada 12–14 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi pemerintah, industri, akademisi, komunitas, hingga mitra internasional untuk memperkuat teknologi dan kapasitas penanggulangan bencana.
Dalam sambutannya, Pratikno menyebut Indonesia merupakan negara yang hidup berdampingan dengan berbagai ancaman bencana. Ia mengatakan setiap tahun terdapat sekitar 5.000 kasus bencana, dengan lebih dari 95 persen di antaranya berkaitan dengan bencana hidrometeorologi.
“Bapak-Ibu sekalian, pada tahun 2026 ini kami menekankan untuk memperkuat aksi dalam rangka merespon peringatan dini,” ujar Pratikno.
Menurut dia, penguatan peringatan dini tidak akan memberikan manfaat maksimal jika informasi yang diterima tidak segera diterjemahkan menjadi tindakan di lapangan.
“Peringatan dini itu sangat penting. Tetapi aksi cepat untuk merespon peringatan dini juga sangat-sangat penting. Karena peringatan dini tidak ada gunanya kalau tidak diikuti dengan aksi cepat, akurat dalam merespon peringatan dini,” tegasnya.
Pratikno juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi seharusnya memberikan waktu bagi pemerintah dan masyarakat untuk mengurangi risiko bencana. Karena itu, teknologi tidak boleh berhenti pada tahap menghasilkan informasi atau analisis.
“Jangan sampai teknologi canggih hanya untuk kita baca analisisnya, hanya untuk kita baca, tetapi informasi yang diberikan oleh teknologi itu harus diikuti dengan aksi cepat merespon peringatan dini dalam rangka menyelamatkan warga,” katanya.
Ia mencontohkan ancaman El Nino yang dapat memicu kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, meningkatnya risiko kebakaran, hingga ancaman terhadap produksi pangan. Pemerintah, lanjutnya, harus mampu merespons informasi tersebut secara cepat untuk meminimalkan dampaknya.
Selain sistem peringatan dini dan respons cepat, Pratikno mendorong penguatan teknologi pencarian dan penyelamatan, layanan kesehatan, pangan, energi, infrastruktur, robotik, artificial intelligence (AI), transportasi, serta logistik.
Pratikno menargetkan Indonesia dapat menjadi center of excellence teknologi kebencanaan dunia. Ia juga menekankan pentingnya kemandirian teknologi melalui riset, industri, dan pengembangan talenta.
“Jangan melihat kita sebagai pasar saja, tapi mari kita bekerja sama untuk alih teknologi, mengembangkan industri di Indonesia dan juga terus menumbuhkan talenta-talenta kita,” ujarnya.
Ia menegaskan EDRR 2026 bukan sekadar pameran, melainkan ruang kolaborasi dan inovasi untuk membangun industri kebencanaan dengan satu tujuan utama, yakni menyelamatkan kehidupan.
