Cara 5 Gubernur Kalimantan Perang Lawan Karhutla

Lima gubernur di Pulau Kalimantan mengambil strategi berbeda untuk menghadapi ancaman api kebakaran hutan Kalimantan/Foto : Dok. Istimewa Lima gubernur di Pulau Kalimantan mengambil strategi berbeda untuk menghadapi ancaman api kebakaran hutan Kalimantan/Foto : Dok. Istimewa

Kalimantan, GPriority.co.id – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali meningkat di tengah kondisi cuaca yang semakin kering.

Lima gubernur di Pulau Kalimantan pun mengambil strategi berbeda untuk menghadapi ancaman api, mulai dari rekayasa cuaca, water bombing, penindakan hukum, hingga edukasi masyarakat.

Kondisi paling mengkhawatirkan terlihat di Kalimantan Timur (Kaltim). BMKG Stasiun Balikpapan mencatat 4.318 titik panas sepanjang 1–11 Agustus 2026. Pada 11 Agustus saja terdapat 590 titik panas yang tersebar di 10 kabupaten/kota. Berau menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 233 titik, disusul Kutai Kartanegara 124 titik dan Kutai Timur 115 titik.

Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, mengatakan kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya kekeringan.

“Saat ini Provinsi Kaltim menuju El Nino fase kuat dengan tingkat kekeringan meningkat, makanya titik panas juga tinggi,” ujar Huda. Ia memperkirakan kondisi paling kering terjadi pada September–Oktober sehingga kewaspadaan terhadap karhutla perlu diperkuat.

Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud memilih langkah antisipatif melalui operasi modifikasi cuaca (OMC). Jika hujan belum turun, rekayasa cuaca direncanakan berlangsung 22–27 Agustus dengan sasaran Berau, Kutai Barat, dan Kutai Kartanegara.

“Insyaallah tanggal 22 sampai tanggal 27 jika hujan belum turun maka akan dilaksanakan rekayasa cuaca supaya hujan bisa segera turun di wilayah Kalimantan Timur, terkhusus untuk di Kabupaten Berau, Kabupaten Kutai Barat, dan juga Kutai Kartanegara. Ini berkaitan dengan karhutla,” kata Rudy.

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin menekankan penegakan hukum. Ia meminta aparat mengusut pelaku pembakaran, termasuk apabila terdapat keterlibatan perusahaan.

“Pelaku pembakaran harus ditindak tegas. Kita tidak ingin karhutla terus terjadi dan menimbulkan dampak bagi masyarakat maupun lingkungan,” tegas Muhidin.

Di Kalimantan Tengah, Gubernur Agustiar Sabran memperkuat pemadaman dari udara dengan mengajukan tambahan helikopter water bombing.

“Sudah, sudah kita lakukan (minta penambahan),” ujar Agustiar terkait permintaan tambahan armada tersebut.

Berbeda lagi dengan Kalimantan Utara. Gubernur Zainal A. Paliwang menitikberatkan pencegahan melalui edukasi.

“Jangan sampai terjadi lagi kebakaran ataupun pembakaran. Kita imbau masyarakat untuk tidak membakar-bakar (lahan) lagi,” katanya.

Sedangkan Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengerahkan tiga pesawat untuk OMC. Dua ditempatkan di Ketapang dan satu disiagakan di Pontianak untuk penyemaian awan menggunakan garam.

“Ada tiga pesawat, dua kita serahkan ke Ketapang, satu untuk siaga di Pontianak,” ujar Ria.

Secara nasional, luas karhutla Januari–Juli 2026 mencapai sekitar 202.004 hektare, dengan 57 persen berada di kawasan hutan dan 43 persen di area penggunaan lain. Pemerintah menilai fenomena El Niño yang datang lebih cepat turut meningkatkan risiko kebakaran.

Lima strategi tersebut menunjukkan bahwa perang melawan karhutla Kalimantan membutuhkan pendekatan berlapis. Deteksi dini, pencegahan, pemadaman cepat, penegakan hukum, rekayasa cuaca, dan keterlibatan masyarakat harus berjalan bersamaan agar api tidak lebih dulu membesar dan asap tidak kembali mengancam ruang hidup warga.