Seoul, GPriority.co.id – Sedotan kertas yang selama ini dianggap sebagai alternatif ramah lingkungan pengganti plastik ternyata menyimpan dampak lingkungan yang tidak bisa diabaikan.
Sebuah penelitian di Korea Selatan mengungkapkan bahwa sedotan kertas memiliki dampak karsinogenik 6,33 kali lebih tinggi dibandingkan sedotan plastik konvensional sepanjang siklus hidupnya.
Temuan tersebut berasal dari studi komprehensif mengenai sedotan sekali pakai yang dipesan Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan Korea Selatan. Hasil penelitian yang dilakukan bersama Korean Society for Life Cycle Assessment itu mengukur dampak empat jenis sedotan, yakni plastik konvensional, kertas, plastik biodegradable, dan bio-based polyethylene (bio-PE).
Penilaian dilakukan terhadap 16 kategori dampak lingkungan dan kesehatan, mulai dari proses produksi bahan baku hingga pembuangan produk setelah digunakan.
Hasilnya, sedotan plastik konvensional justru mencatat dampak lingkungan paling rendah dalam 10 dari 16 kategori penilaian. Sementara itu, sedotan kertas menunjukkan dampak karsinogenik 6,33 kali lebih tinggi dibandingkan plastik biasa. Sedotan plastik biodegradable tercatat 3,34 kali lebih tinggi, sedangkan sedotan bio-PE mencapai 16,18 kali.
Meski demikian, angka tersebut merupakan indikator dampak karsinogenik berdasarkan pemodelan siklus hidup produk, bukan berarti seseorang yang menggunakan sedotan kertas memiliki risiko terkena kanker 6,33 kali lebih besar.
Hasil penelitian tersebut turut memunculkan kritik terhadap kebijakan pemerintah Korea Selatan yang mendorong penggunaan bahan alternatif pengganti plastik.
Anggota parlemen Korea Selatan, Kim Wi Sang, menilai kebijakan penggantian material belum tentu menjadi solusi efektif untuk mengurangi dampak lingkungan.
“Pemerintah harus mengakui kegagalan kebijakan ‘greenwashing’-nya, yang terlalu terpaku pada bahan pengganti yang tidak efektif,” tegas Kim.
Selain persoalan dampak lingkungan, penelitian tersebut juga menemukan bahwa sedotan sekali pakai dari berbagai bahan sulit didaur ulang. Ukurannya yang kecil membuat sedotan sulit dipilah di fasilitas pengolahan sampah. Lapisan pelapis dan perekat pada sedotan kertas juga dapat menghambat proses daur ulang.
Survei terhadap 1.001 responden dalam laporan tersebut menunjukkan 87,5 persen masyarakat masih lebih memilih sedotan plastik. Sementara itu, 54,4 persen responden mendukung kebijakan penyediaan sedotan hanya jika diminta pelanggan.
Berdasarkan temuan tersebut, peneliti menyarankan agar gerai makanan dan minuman tidak lagi menyediakan sedotan sekali pakai secara otomatis, baik berbahan kertas maupun plastik. Sedotan dapat diberikan apabila pelanggan memintanya.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa solusi persoalan sampah tidak cukup hanya dengan mengganti jenis material. Mengurangi penggunaan produk sekali pakai sejak awal dinilai menjadi langkah penting untuk menekan dampak lingkungan secara menyeluruh.
