Samarinda, GPriority.co.id – Aksi demonstrasi Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (Geram) di Kantor Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Samarinda, Rabu (4/11), kembali berlangsung hingga sore dan malam.
Mahasiswa bersama sejumlah elemen masyarakat menuntut penyelesaian persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pemadaman listrik, serta realisasi janji pemerintah daerah.
Aksi yang berlanjut dari demonstrasi pada 21 Oktober 2026 itu diwarnai pelemparan sayuran busuk ke halaman kantor gubernur. Massa menilai tuntutan sebelumnya belum mendapatkan tindak lanjut konkret dari Pemerintah Provinsi Kaltim.
Koordinator lapangan Geram, Wira Saguna Abyasa Harahap, mengatakan pihaknya membawa dua tuntutan tambahan, yakni kompensasi bagi warga yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat karhutla dan pencopotan Sudarno dari tim ahli gubernur.
“Kemudian ada dua tuntutan tambahan, yaitu memberikan kompensasi terhadap pengidap penyakit ISPA akibat karhutla, dan juga mencopot Sudarno dari tim ahli yang hari ini di masyarakat memprovokasi masyarakat,” kata Wira kepada wartawan.
Menurut Wira, komunikasi dengan humas Pemprov Kaltim belum menghasilkan kepastian mengenai tindak lanjut tuntutan. Ia menilai pemerintah masih sebatas memberikan janji tanpa kejelasan realisasi.
“Hal-hal yang diberikan adalah janji-janji yang tidak pasti. Dan hari ini kami juga tidak mendengar atau mendapat jawaban yang kami inginkan sama sekali,” ujarnya.
Wira juga menyoroti ketidakhadiran Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud maupun Wakil Gubernur Seno Aji untuk menemui massa secara langsung.
“Setidaknya gubernur atau wakil gubernur menemui kami. Kalau mereka nggak ada sama sekali artinya mereka takut sama kami,” tegasnya.
Sementara itu, pelemparan sayuran busuk menjadi simbol kekecewaan masyarakat terhadap pemadaman listrik yang berulang di sejumlah wilayah Kaltim. Salah seorang peserta aksi, Muhammad Khadafi, mengaku mengalami kerugian akibat gangguan listrik yang berdampak pada usaha dan ternaknya.
“Ini sebagai bentuk keresahan dari masyarakat, apalagi UMKM. Seperti saya, ternak-ternak saya pada mati karena mati lampu,” kata Khadafi.
Mahasiswa asal Kutai Kartanegara itu menyebut pemadaman listrik telah berlangsung sekitar tiga bulan di daerahnya.
“Ini sudah berbulan-berbulan. Sudah berulang-ulang (mati lampu),” katanya.
Khadafi juga mempertanyakan kondisi kelistrikan Kaltim yang masih mengalami pemadaman meski dikenal sebagai daerah penghasil batu bara.
“Harapannya Pemprov bisa menyelesaikan lagi. Masa sudah banyak lubang tambang yang dikeruk, tapi masih mati lampu?” tutupnya.
Geram mendesak Pemprov Kaltim segera memberikan respons konkret terhadap tuntutan masyarakat, termasuk penanganan karhutla, kompensasi warga terdampak ISPA, evaluasi tim ahli gubernur, dan perbaikan pasokan listrik.
