Penulis : Haris | Editor : Lina F | Foto : SS YouTube
Jakarta,GPriority.co.id-Asma adalah penyakit kronis yang umum dan berpotensi serius. Karena asma ditandai dengan penyempitan dan peradangan saluran pernapasan yang mengakibatkan sesak (sulit bernapas).
“Asma menyebabkan gejala pernapasan, keterbatasan aktivitas, dan flare-up (serangan) yang terkadang membutuhkan perawatan kesehatan yang mendesak dan bisa berakibat fatal,” jelas Ketua Pokja Bidang Asma & PPOK PDPI, Dr. Budhi Antariksa, Ph.D, Sp.P(K) dalam siaran persnya secara virtual.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2020, Asma merupakan salah satu jenis penyakit yang paling banyak diidap oleh masyarakat Indonesia, hingga akhir tahun 2020, jumlah penderita asma di Indonesia sebanyak 4,5 persen dari total jimlah penduduk Indonesia atau sebanyak 12 juta lebih.
“Sebagian besar beban morbiditas dan mortalitas asma terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. PDPI menghimbau untuk berusaha mengurangi beban ini dengan mendorong para pemimpin perawatan kesehatan untuk memastikan ketersediaan dan akses ke obatobatan yang efektif dan terjamin kualitasnya,” jelas Budhi Antariksa.
Beban ekonomi asma juga relatif besar secara global. Berbagai estimasi dibuat di beberapa Negara dalam mencoba menghitung berapa biaya yang diakibatkan oleh asma dari berbagai sektor kehidupan.
Beban langsung akibat penyakit asma dapat dilihat dari biaya pengobatan dan perawatan pasien asma. Sedangkan biaya tidak langsung dihitung berdasarkan efek negative asma pada produktivitas pasien seperti tidak masuk sekolah atau kerja akibat asma.
Pada beberapa penelitian,beban tidak langsung asma bahkan lebih tinggi dari beban langsung asma akibat pengobatannya. Beban ekonomi ini bervariasi antara negara dengan pendapatan tinggi dan rendah
“PDPI berkeinginan untuk meningkatkan dan memperkuat hubungan dengan pembuat kebijakan lokal dan nasional. PDPI juga berkomitmen untuk memastikan rekomendasi khusus untuk keselamatan pasien, juga bekerja untuk meningkatkan kehidupan penderita asma secara global, dan kolaborasi multifaset untuk perbaikan dalam semua aspek perawatan asma, untuk pasien dan lingkungan sangat penting,” tambahnya.
Menutup sambutannya, Budhi mengatakan, pemeriksaan spirometri sebelum dan sesudah bronkodilator adalah salah satu pemeriksaan awal yang paling berguna untuk mendeteksi asma.
Ketersediaan spirometri di level pelayanan kesehatan yang paling bawah sangat diperlukan, dan tentu saja termasuk pelatihan untuk pengoperasiannya. Demikian juga untuk akses ketersediaan obat-obatan inhaler yang sangat penting dalam tatalaksana asma selain edukasi dan faktor lingkungan.
