Antisipasi Krisis Kesehatan Saat Bencana, Pemerintah Siapkan Tenaga Cadangan Kesehatan

Penulis : Ponco | Editor : Lina F | Foto : Kemenkes

Jakarta, Gpriority.co.id – Untuk mengantisipasi timbulnya krisis kesehatan jika terjadi bencana alam maupun yang non alam, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membentuk tenaga cadangan kesehatan pada setiap daerah. Tercatat sudah 8,869 orang yang mendaftar menjadi tenaga cadangan kesehatan.

Dalam keterangan pers-nya, Kepala Pusat Krisis Kesehatan, Sumarjaya menjelaskan pembentukan tenaga cadangan kesehatan mengingat Indonesia merupakan negara yang mayoritas wilayahnya berada di zona kuning dan merah. Kondisi dan letak geografis ini membuat Indonesia rawan terjadi bencana yang berpotensi menimbulkan banyak korban jiwa.

Sayangnya dengan kondisi tersebut kapasitas kesehatan di setiap daerah utamanya daerah rawan bencana belum merata, saat ini masih terkonsentrasi di kota-kota besar seperti DKI Jakarta, Jogja dan Jawa Timur. Sementara daerah lain kapasitasnya masih sedang dan rendah. ”Tentu ini menjadi ancaman kesehatan dan keselamatan masyarakat. Selain itu, kita juga belajar dari pengalaman penanganan COVID-19 yang datang tiba-tiba sehingga sistem kesehatan kita belum siap, karenanya perlu kita perkuat dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat,” ujarnya dilansir Kemenkes.

Kemenkes sendiri membuka kesempatan bagi masyarakat umum baik tenaga kesehatan maupun non tenaga kesehatan untuk menjadi bagian dari tenaga cadangan kesehatan. Pendaftarannya dapat dilakukan secara individu, tim, maupun melalui Emergency Medical Team (EMT). Adapun registrasi dapat melalui laman https://tenagacadangankesehatan.kemkes.go.id. Sampai kini, telah 8,869 orang mendaftar menjadi tenaga cadangan kesehatan.

Dijelaskan Sumarjaya, pendaftar yang akan diterima sebagai tenaga cadangan kesehatan harus memenuhi sejumlah kriteria terkait fisik, mental dan skill yang telah ditetapkan pemerintah. Penetapan kriteria ini menurutnya menyesuaikan dengan kebutuhan di lapangan, mengingat karakteristik bencana sangat beragam, sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda-beda.

”Menjadi tenaga cadangan kesehatan harus punya kapabilitas artinya expert dan mampu serta harus punya mobilitas. Mereka tergabung untuk memudahkan koordinasi dan sesuai dengan kebutuhan,” tandasnya.

Dirinya pun memastikan seluruh tenaga cadangan kesehatan yang diterima akan memperoleh pembinaan dari pemerintah. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan dan kecakapan yang dimiliki.

“Setelah registrasi, kita lakukan pembinaan, agar semua relawan harus belajar, jadi kalau ada bencana kita tahu apa yang akan dilakukan. Jadi tidak semua (relawan) datang, tapi kita koordinir melalui tenaga cadangan kesehatan. Misalnya, psikiater datang di minggu kedua bukan pertama, orthopedi butuh di minggu pertama bukan mingguan kedua, sehingga semuanya teratur,” tukasnya.

Setelah dilakukan pembinaan, tenaga cadangan kesehatan siap dimobilisasi saat terjadi bencana alam maupun krisis kesehatan. Adapun mobilisasinya dilakukan oleh Kemenkes.