Jakarta, GPriority.co.id – Belum dilaksanakan secara menyeluruh di Indonesia, belum lama ini program makan bergizi gratis (MBG) kembali mendapat sorotan.
Viral sebuah video di TikTok akun @ahmad.lehan6 memperlihatkan suasana rapat sekolah yang membahas program makan bergizi gratis.
Dalam video tersebut menampilkan narasi yang menyebutkan kewajiban orang tua untuk membeli tempat makan di sekolah seharga Rp30.000 per unit, dengan ketentuan membeli dua unit seharga Rp60.000.

Hal ini menuai kontroversi karena program makan bergizi gratis seharusnya tidak memerlukan biaya tambahan, apalagi untuk tempat makan.
Unggahan tersebut mendapat reaksi negatif dari netizen yang menilai praktik ini sebagai pungutan liar yang dilakukan oleh pihak sekolah dengan memanfaatkan program pemerintah.
Bahkan, akun resmi Partai Gerindra turut berkomentar mempertanyakan pihak yang memberi arahan tersebut.
Pengunggah video menjawab bahwa orang yang berbicara adalah kepala sekolah, semakin memicu perdebatan di kalangan publik.
Susu Diganti Telur dan Daun Kelor?
Terkait program makan bergizi gratis, saat ini pemerintah memang terus melakukan kajian agar penyalurannya dilaksanakan dengan tepat.
Begitupun terkait jenis makanan yang diberikan. Belum lama ini Badan Gizi Nasional berinisiasi untuk mengganti susu dengan telur atau daun kelor untuk program makan bergizi gratis.

Badan Gizi Nasional juga menyatakan bahwa susu dalam program makan bergizi gratis akan didistribusikan di daerah yang memiliki peternakan sapi perah atau yang mudah diakses oleh logistik dari daerah peternakan sapi perah,
Sementara untuk daerah yang bukan penghasil susu, susu dapat diganti dengan telur atau daun kelor.
Badan tersebut akan memprioritaskan susu pasteurisasi dalam program tersebut.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menegaskan bahwa produksi susu Indonesia tidak mencukupi untuk program tersebut, dan mengusulkan alternatif seperti telur atau ayam untuk kebutuhan protein.
Namun, jika produksi lokal meningkat, susu dapat secara bertahap dimasukkan dalam program tersebut tanpa membebani negara.
Lebih lanjut, program makan bergizi gratis direncanakan menjangkau sekitar 3 juta penerima manfaat dengan pelaksanaan bertahap mulai 6 Januari 2025.
Foto : Istimewa
