Wabup Mahyunadi Targetkan Pengelolaan Sampah Modern Terealisasi pada 2026

Banyumas, GPriority.co.id – Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi menargetkan mengembangkan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) modern di Kutai Timur terealisasi pada 2026. Mahyunadi mengatakan Kutai Timur siap mencontoh sistem pengelolaan sampah yang dilakukan Pemkab Banyumas.

“Kita akan ikuti contoh Banyumas. Tahun ini mungkin belum bisa terlaksana, tapi tahun depan insyaallah akan mulai dibangun. Kita ingin Kutim bersih, bahkan bisa raih Adipura,” ujar Mahyunadi saat berkunjung ke TPST Berbasis Lingkungan dan Edukasi (BLE) di Desa Wlahar Wetan, Banyumas, Selasa (154).

Mahyunadi menilai TPST BLE WIahar Wetan bukan TPST biasa. Fasilitasnya dirancang modern dan edukatif yang memproses sampah dari hulu ke hilir dan menjadi pembelajaran masyarakat mengenai pentingnya daur ulang, pengurangan limbah rumah tangga, hingga pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Lebih lanjut, Mahyunadi menuturkan Pemkab Kutai Timur akan menggali informasi detail mengenai teknologi alat, skema organisasi pengelola, hingga metode edukasimasyarakat yang telah diterapkan di Banyumas. Targetnya jelas, membawa pulang bukan hanya inspirasi, tapi juga sistem kerja yang terbukti efektif.

Disisi lain, Mahyunadi mengakui bahwa kondisi pengelolaan sampah di Kutai Timur masih jauh tertinggal.

“Selama ini kita merasa sudah berusaha, tapi setelah melihat Banyumas, ternyata kita belum punya apa-apa. Karena itu kami tidak ingin mengulangi kesalahan dengan coba-coba. Kami ingin belajar dari yang sudah ahli,” ucapnya.

Selanjutnya, DLH Banyumas menyatakan siap mendampingi Kutai Timur, baik melalui kunjungan langsung maupun koordinasi virtual. Pendampingan ini dianggap penting agar implementasi sistem tidak berhenti pada dokumen perencanaan semata.

Widodo Sugiri dari DLH Banyumas menegaskan kolaborasi lintas wilayah sangat dibutuhkan dalam mewujudkan Indonesia yang lebih bersih.

“Sampah itu masalah semua daerah. Kalau satu daerah bisa jadi contoh, kenapa tidak dibagi ilmunya,” tegasnya.

Salah satu dampak paling penting dari kunjungan ini adalah perubahan pola pikir. Di Kutai Timur pengelolaan sampah masih kerap dipandang sebagai sektor kelas dua, kurang strategis, dan tidak menarik.

Namun, pengalaman melihat langsung TPST BLE yang bersih, tertata, dan produktif membuka mata bahwa pengelolaan sampah adalah pilar penting pembangunan berkelanjutan.

Sebagaimana ditunjukkan Banyumas, pengelolaan sampah bukan hanya urusan teknis, melainkan juga persoalan edukasi, tata kelola, dan partisipasi publik. Inilah yang ingin dibawa pulang Mahyunadi dan tim ke Kutim.

Kunjungan ini mungkin hanya satu hari, tapi dampaknya bisa menjangkau masa depan. Di tengah kesadaran nasional tentang pentingnya pengelolaan lingkungan, apa yang dilakukan Kutai Timur dan Banyumas menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi bisa memicu perubahan. Banyumas memberi inspirasi, Kutai Timur menyiapkan aksi. Jika semua daerah memiliki semangat yang sama, maka impian Indonesia yang bersih dan sehat bukanlah utopia.

Editor: Novita Intan

Foto: Pemkab Kutim