Sambut HUT RI ke-80, Dompet Dhuafa Gelar Sarasehan Tema Kemiskinan

Acara Sarasehan Tokoh Bangsa di Dompet Dhuafa/Foto : Dok Fifi Abdurahman

Jakarta, GPriority.co.id – Dompet Dhuafa mengadakan acara Sarasehan Tokoh Bangsa bertema “Merajut Kebersamaan, Mewujudkan Merdeka dari Kemiskinan” di Jakarta Selatan, Rabu, 13 Agustus 2025.

Acara ini digelar dalam rangka menyambut hari kemerdekaan republik indonesia ke-80 tahun, yang jatuh pada hari Minggu (17/8) mendatang.

Adapun tokoh nasional yang hadir dalam acara ini yakni Ketua Umum PBNU 2010-2021 Said Agil Siradi, Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Muhammad Zaitun Rasmin, dan Sekjen Dewan Masjid Indonesia Rahmat Hidayat.

Selain itu, ada juga Aktivis dan Cendekiawan Yudi Latif, Aktivis Hukum dan Demokrasi Bambang Widjojanto, Ketua Pengurus YDDR Ahmad Juwaini dan Inisiator & Ketua Pembina YDDR Parni Hadi.

Ketua Pengurus Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini mengatakan, acara ini bukan sekadar forum dialog, tetapi momentum untuk menyatukan langkah para tokoh bangsa, akademisi, pelaku usaha, lembaga filantropi, dan masyarakat sipil.

“Kita ingin mempertegas bahwa kemerdekaan sejati adalah saat seluruh rakyat terbebas dari belenggu kemiskinan. Melalui forum ini, kami berharap lahir komitmen bersama untuk mempercepat pengentasan kemiskinan secara sistemik dan berkelanjutan dan juga peran filantropi,” ujar Ahmad dalam pidatonya, Rabu (13/8).

Ahmad mengaku bangga dengan kemerdekaan indonesia yang sudah mencapai angka 80 tahun.

Namun, dia melihat, hingga saat ini cita-cita para pendiri bangsa belum semuanya terwujud. Salah satunya dalam memberantas kemiskinan.

“Tentu kita merasa senang dan bangga dengan kemerdekaan yang sudah kita raih, tapi dibalik kemerdekaan itu kalau kita boleh jujur belum semua hal yang diceritakan oleh founding father negara ini sudah tercapai,” katanya.

“Salah satunya adalah kemiskinan, karena junlah penduduk miskin jumlahnya masih sangat besar. Kalau kita melihat upaya-upaya bangsa ini dalam mengatasi kemiskinan itu sudah dimulai sejak setelah kemerdekaan, dan mungkin baru secara serius dilakukan pada awal era orde baru, khususnya pada periode 1976 sampai 1996,” tambah Ahmad.

Pewarta : Fifi Abdurahman