Kasus Keracunan MBG Sentuh 6 Ribu Korban, Kepala BGN: Masih Batas Wajar

Ilustrasi dapur MBG (Makan Bergizi Gratis) / Foto : Dok. Menkopolkam RI Ilustrasi dapur MBG (Makan Bergizi Gratis) / Foto : Dok. Menkopolkam RI

Jakarta, GPriority.co.id – Meski kasus keracunan MBG (Makan Bergizi Gratis) telah menyentuh lebih dari 6 ribu korban di 16 provinsi Indonesia, Kepala BGN (Badan Gizi Nasional) Dadan Hindayana, menolak desakan untuk menghentikan program MBG sementara waktu.

Dilansir dari ANTARA pada Jumat (25/9), Dadan menegaskan jika saat ini pemerintah tetap berfokus untuk mengejar target penerima manfaat. Namun pihaknya mengaku dilema terkait pemenuhan sumber daya manusia serta keamanan program.

Dadan menyatakan jika kasus keracunan MBG masih dalam batas wajar, dimana hanya 4.711 porsi dari 1 miliar porsi yang sudah disajikan dalam waktu 9 bulan sejak program ini dilaksanakan.

Guna mencegah kejadian serupa, ke depannya pihak BGN berjanji akan melakukan sejumlah perbaikan. Mulai dari membentuk tim investigasi, menghentikan sementara operasional dapur yang bermasalah, serta memperpendek jangkauan pengawasan dengan membuka kantor di tiap kabupaten/kota mulai 2026 mendatang.

Namun kini, desakan terhadap penghentian program MBG kian mencuat usai jumlah siswa yang keracunan semakin bertambah banyak, terutama dalam dua bulan terakhir ini.

Menurut data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), sebanyak 342 siswa mengalami keracunan pada bulan Juli lalu. Jumlah tersebut meningkat menjadi 2.226 siswa pada bulan Agustus. Sementara pada bulan September menjadi 3.145 siswa. Total korban dari Januari mencapai 6.425 siswa.

Desakan datang dari berbagai pihak mulai dari KPAI, JPPI, serta ICW agar Presiden Prabowo segera menghentikan program MBG sebelum korban jiwa berjatuhan. Mereka menekankan, keselamatan anak harus menjadi prioritas utama dibandingkan hanya sekadar mengajar target jumlah penerima manfaat dari salah satu program prioritas presiden tersebut.

Sementara itu, saat ada usulan untuk mengganti MBG dengan uang tunai, Dadan menegaskan jika pemberian uang tunai sudah diakomodasi oleh program lain seperti BLT. Menurutnya, sedari awal program MBG memang sudah dirancang Presiden Prabowo untuk pemenuhan gizi anak.

Ia berpendapat, pemberian bantuan secara tunai justru akan rawan disalahgunakan. Dadan mencontohkan pada kasus dana KIP di Sumatera Utara yang tidak sesuai peruntukkan. Ia menekankan, tujuan utama MBG ialah untuk memastikan agar anak-anak mendapat asupan bergizi dalam bentuk asupan langsung, bukan lewat pemberian uang.