Peneliti BRIN: Kerusakan Seluruh Wilayah Gaza Telah Mencapai 90 Persen

Nostalgiawan Wahyudi, M.A selaku Peneliti Pusat Riset Politik BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) saat menjadi narasumber dalam agenda diskusi publik di Kampus BRIN, Jakarta, Selasa (7/10)/Foto : GPriority (Nindya Farhah Azzahrah) Nostalgiawan Wahyudi, M.A selaku Peneliti Pusat Riset Politik BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) saat menjadi narasumber dalam agenda diskusi publik di Kampus BRIN, Jakarta, Selasa (7/10)/Foto : GPriority (Nindya Farhah Azzahrah)

Jakarta, GPriority.co.id – Sejak 7 Oktober 2023, serangan Israel terus berlangsung ke Gaza, Palestina. Sehingga tepat di hari ini, serangan tersebut sudah berjalan selama 2 tahun.

Nostalgiawan Wahyudi, M.A selaku Peneliti Pusat Riset Politik BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) menyebut, meski korban di awal serangan Israel lebih banyak, terlebih di tahun 2024, namun hingga kini serangan tersebut telah merusak wilayah Gaza, Palestina hingga 90 persen.

“Sementara, kurang dari 10 persen bangunan-bangunan yang mengalami kecacatan ringan,” ujarnya dalam diskusi publik di Kampus BRIN, Selasa (7/10).

Dari data yang dikumpulkannya, korban tewas serangan Israel di Gaza kini mencapai 66.288 dan jumlahnya terus meningkat. Data tersebut didapatkan dari Kementerian Kesehatan Gaza serta laporan dari PBB.

“Paling mengenaskan adalah penduduk Palestina yang dibunuh tanpa senjata. Jadi mereka meninggal karena tidak ada makanan, dan meninggal secara perlahan. Banyak anak-anak dan kaum perempuan yang meninggal karena malnutrisi, tidak ada akses makanan,” ungkap Wahyudi.

Kendati puluhan ribu truk bantuan berjajaran di Jordan dan Mesir, mereka tidak bisa masuk terutama di wilayah Rafah. Mirisnya, bahan makanan tersebut seperti gandum, pada akhirnya rusak karena dibiarkan terkena panas terik matahari. Begitupun dengan bahan makanan lainnya yang ditujukan untuk membantu warga Gaza yang terdampak.

“Ketika masuk ke Gaza, rata-rata makanannya sudah rusak. Hanya sebagian kecil yang bisa dimanfaatkan. Dan di sini kita bisa merasakan bagaimana hukum internasional itu dipecundangi. Bagaimana Israel dengan sedemikian ringan mengkhianati hukum internasional yang disegani oleh semua negara,” tuturnya.

Mirisnya, Wahyudin mendapat laporan dari rekan-rekannya yang bekerja di bidang kemanusiaan dan datang ke Gaza, warga terpaksa meminum air dari sumber yang tak layak.

“Air itu disalinasi dari kotoran. Air dari selokan itu dengan sistem drip ya, sistem tetes. Jadi ada tiga step kalau tidak salah sebelum diminum. Air itu bukan air yang layak diminum sebetulnya. Itu terpaksa mereka lakukan karena memang tidak ada akses untuk air,” jelasnya.

Wahyudin bahkan menyebut Israel sebagai negara yang tak punya rasa malu. Pasalnya, disaat banyak negara telah mengakui kemerdekaan Palestina, namun Israel tetap bersikeras untuk gagah berdiri.

“Padahal semua tahu apa yang dilakukan oleh Israel terhadap masyarakat Palestina. Sebetulnya telah melebihi kapasitas mereka sebagai manusia. Mereka gagah berdiri tanpa ada rasa malu,” pungkas Wahyudin.