Prabowo Sebut Kasus Keracunan Program MBG Masih Tergolong Manusiawi 

Demi Pulihkan Hutan di Brasil, Prabowo Sumbang Rp16,6 Triliun/Foto : YouTube Sekretariat Presiden Demi Pulihkan Hutan di Brasil, Prabowo Sumbang Rp16,6 Triliun/Foto : YouTube Sekretariat Presiden

Jakarta, GPriority.co.id – Presiden Prabowo Subianto menyebut kasus keracunan atau kesalahan (error) dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih tergolong manusiawi.

Hal itu disampaikan Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna memperingati satu tahun pemerintahannya bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Senin (20/10).

Awalnya Prabowo memaparkan capaian program MBG yang telah berjalan selama hampir satu tahun. Hingga kini, jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah mencapai 12.508 dari target 32.000 unit.

“Dan artinya hari ini sudah 1.410.000.000 porsi MBG sudah dimasak dan dibagikan sejak tanggal 6 Januari 2025. Hari ini ada 36.700.000 anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang sudah menerima makan bergizi gratis ini,” kata Prabowo sebagaimana disiarkan dalam YouTube Sekretariat Presiden.

Prabowo mengibaratkan jumlah penerima manfaat program tersebut setara dengan populasi enam negara Singapura. Ia mengklaim capaian ini menjadi perhatian dan mendapat apresiasi dari berbagai negara. 

“Ini prestasi yang dipantau banyak negara. Yang saya tahu Presiden Brazil memberitahu kepada saya mereka butuh 11 tahun untuk mencapai 40 juta. Kita Alhamdulillah dalam satu tahun kita mencapai 36 juta,” tuturnya.

Prabowo turut mengapresiasi kinerja Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana yang berupaya keras mencapai target 40 juta penerima. Namun, ia berpesan agar target tersebut tidak dipaksakan. 

“Memang Kepala BGN bekerja keras supaya pada hari ini mencapai 40 juta. Tapi saya menyampaikan jangan dipaksakan. Ojo Ngoyo, yang penting baik pelaksananya,” ucap Prabowo.

Lebih lanjut, Kepala Negara mengatakan bahwa selama pelaksanaan MBG memang memiliki kekurangan, seperti yang terjadi belakangan ini, dimana ribuan anak mengalami keracunan.

Meski begitu, dia menilai hal itu merupakan risiko yang masih bisa ditoleransi dibandingkan dengan skala capaian program. 

“36.700.000 ini bukan tanpa kekurangan. Ada beberapa ribu yang keracunan makan, sakit perut. Tetapi kalau diambil statistik 8.000 dari 1.410.000.000 saya kira masih dalam koridor error yang manusiawi. Kalau tidak salah kekurangannya adalah atau katakanlah angka yang sakit itu adalah mungkin sekitar 0,007. Yang berarti 99,99 persen berhasil,” jelasnya.

Namun, Prabowo menegaskan agar BGN terus melakukan pembenahan agar penyimpangan tidak terulang. 

“Dengan volume yang demikian besar yang zero error, zero defect. Sangat-sangat sulit.  Walaupun kita tidak boleh menerima. Terus saya tekankan kepala BGN dan jajarannya untuk menghasilkan suatu prosedur tetap yang ketat. Menggunakan alat-alat yang terbaik untuk kita jamin kekurangan atau penyimpangan tidak terjadi,” tegasnya.

Sebagai langkah pencegahan, Prabowo juga meminta para guru mengingatkan anak-anak untuk mencuci tangan sebelum makan. Dia juga akan menyediakan sendok untuk mendukung higienitas para siswa saat konsumsi MBG.

“Tapi sebaiknya kita mulai mendidik anak-anak kita. Karena namanya anak-anak mungkin dia merasa sudah dicuci atau dia apa dan sebagainya. Mungkin kita harus sekarang kepala BGN mungkin sudah lah dibagi saja sendok yang sederhana. Tidak apa-apa. Saya kira sendok itu tidak terlalu mahal,” ucapnya.

“Walaupun saya tahu kebiasaan rakyat kita memang lebih enak makan pakai tangan. Tapi ini kadang-kadang ya ini, kita sebagai pemimpin, sebagai guru, sebagai orang tua tidak boleh malas untuk mengingatkan,” tambah Prabowo.