Singapura, GPriority.co.id – Hampir 20 ribu warga Singapura harus kehilangan pekerjaan akibat badai PHK yang terjadi di negara tersebut, menurut data dari Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura.
Dikutip dari laporan Reuters, 7 sektor industri bernilai tinggi di Singapura kini sedang menghadapi tantangan besar. Diantaranya pada sektor real estate, layanan profesional, sektor IT, perdagangan ritel, perdagangan besar, pendidikan, hingga makanan dan minuman.
Kendati demikian, pemerintah Singapura juga mencatat tambahan pekerjaan baru sebanyak 50 ribu posisi di tahun 2025 ini. Dimana, pada kuartal III 2025 terdapat tambahan 30 ribu posisi. Namun, penambahan posisi pekerjaan baru tersebut terjadi pada industri dengan skala gaji yang rendah. Diantaranya pada sektor konstruksi serta pekerja rumah tangga imigran.
Menurut beberapa analis, hal ini disebabkan oleh kebutuhan kompetensi yang berubah seiring zaman. Terlebih, posisi kerja pada beberapa sektor juga telah tergantikan oleh peran AI dalam beberapa tahun terakhir. Seperti sektor IT yang dilaporkan telah kehilangan hingga 9.500 posisi sejak 2024 lalu.
Akibat fenomena tersebut, dalam jangka panjang akan terjadi krisis tenaga kerja karena melmahnya fondasi tenaga kerja yang memiliki kemampuan tinggi dan selama ini menjadi kekuatan ekonomi negara dengan julukan ‘Kota Singa’ tersebut.
Bukan hanya di Singapura, negara lain di dunia juga sedang mengalami pelemahan pada pasar tenaga kerjanya akibat ekspansi AI secara masif dan cepat dalam 3 tahun terakhir ini.
Misalnya saja seperti perusahaan raksasa global seperti UPS, Amazon, hingga Intel yang mem-PHK puluhan ribu karyawannya dan lebih mengandalkan teknologi AI.
Di tanah air sendiri data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat sebanyak 44.333 pekerja Indonesia terkena PHK sepanjang Januari-Agustus 2025 lalu.
Menurut Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli, lonjakan PHK terjadi karena beberapa faktor mulai dari penurunan pasar industri domestik serta ekspor, hingga perubahan model bisnis perusahaan dan permasalahan hubungan industrial.
“Ini karena memang industri pasarnya sedang turun. Kemudian industri itu sendiri yang berubah model bisnisnya. Kemudian ada juga isu terkait internal, hubungan industrial, dan sebagainya,” jelas Yassierli dikutip dari ANTARA.
