Menikah Rasa Pacaran, Simak 6 Dampak Positif LAT Marriage

Menikah Rasa Pacaran, LAT Marriage Juga Punya Dampak Positif!/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik Menikah Rasa Pacaran, LAT Marriage Juga Punya Dampak Positif!/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Fenomena living apart together marriage atau LAT Marriage belakangan sedang viral di media sosial. Pasangan suami istri yang menjalankan hubungan ini memilih tinggal di rumah berbeda dengan berbagai alasan.

Dilansir dari postingan akun Instagram @akademikesehatanmental, pasangan suami istri yang menjalankan LAT Marriage biasanya lebih mengedepankan karier, kebutuhan ruang personal, hingga ingin menjaga kualitas hubungan yang dijalankan.

Fenomena LAT Marriage sebenarnya telah banyak dibahas dalam psikologi relasi modern, seperti pada kajian attachment style, marital satisfaction, hingga autonomy in romantic partnerships.

Berdasarkan literasi psikologi, berikut ini 6 dampak positif LAT Marriage.

1. Autonomy yang lebih sehat

Menurut psikologi relasi, pasangan yang memiliki ruang personal tanpa memutus koneksi emosional, sering kali memiliki hubungan yang lebih stabil serta meningkatkan well-being atau keadaan pada seorang individu yang digambarkan dengan rasa bahagia, kepuasan, serta tingkat stres yang rendah. Selain itu, individu tersebut juga sehat secara fisik dan mental juga memiliki kualitas hidup yang baik.

2. Mengurangi konflik rumah tangga sehari-hari

Psikologi menilai konflik pernikahan banyak muncul bukan karena pasangan yang tidak cocok, melainkan karena paparan terus-menerus terhadap stres domestik. Dengan tinggal secara terpisah, pasangan dapat mengurangi gesekan kecil yang biasanya membesar, terutama ketika keduanya berada pada titik lelah.

3. Meningkatkan gairah dan kualitas pertemuan

Dalam psikologi reward anticipation dijelaskan bahwa kerinduan dapat meningkatkan nilai emosional dari sebuah pertemuan. Sehingga, pasangan LAT Marriage serasa seperti kembali pada masa pacaran dan menciptakan hubungan suami istri yang fresh, playful, serta penuh excitement..

4. Mendorong komunikasi yang lebih rasional

Karena tidak setiap hari bertemu, maka pasangan LAT Marriage akan terbiasa menjadwalkan komunikasi, menyampaikan kebutuhan dengan lebih jelas, serta menghindari pembicaraan implusif. Hal tersebut sejalan dengan riset Emotion Regulation dan Cognitive Control pada hubungan dewasa.

5. Mengurangi co-dependency serta membangun kedewasaan emosional

Hubungan LAT membantu pasangan suami istri untuk lebih matang secara individu, tidak terlalu bergantung satu sama lain, tidak menuntut berlebihan, serta lebih bertanggung jawab secara personal. Dalalm literatur psikologi dijelaskan, hubungan ini mendukung secure attachment.

6. Mendukung produktivitas serta pertumbuhan diri

Riset menunjukkan, pasangan yang tidak merasa terhambat dalam pertumbuhan diri cenderung memiliki kepuasan pernikahan yang lebih tinggi. Banyak pasangan memilih LAT karena pekerjaan, pendidikan, pengembangan karier, serta tanggung jawab keluarga masing-masing.

Meski sebagian orang menganggap LAT Marriage dapat merenggangkan hubungan, namun jika dilihat dari kacamata positif, hubungan ini menghadirkan pandangan baru yang lebih modern untuk mengatur cinta secara sadar dan tidak mengikuti template lama.

Lewat hubungan ini, pasangan bisa sama-sama bertumbuh namun keterikatan emosional dapat tetap terjalin hangat. Pasalnya, kedewasaan dalam relasi bukan hanya dilihat dari frekuensi pertemuan, namun juga dilihat dari seberapa kuat koneksi, komitmen, serta komunikasi yang dibangun dengan pasangan.

Jadi, apakah anda tertarik menjalankan hubungan pernikahan dengan cara seperti ini?