Hindari Semprot Parfum di Leher! Pakar Ini Ungkap Bahayanya

Ilustrasi menyemprot parfum di bagian leher/Foto : Dok. Shutterstock Ilustrasi menyemprot parfum di bagian leher/Foto : Dok. Shutterstock

Jakarta, GPriority.co.id – Menyemprotkan parfum di area leher telah menjadi kebiasaan banyak orang karena dianggap membuat aroma lebih tahan lama.

Namun, sejumlah pakar kesehatan mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan, bukan karena parfum secara langsung merusak kelenjar tiroid, melainkan karena potensi paparan bahan kimia tertentu dan risiko iritasi pada kulit.

Dalam unggahan edukasi kesehatan akun Instagram @healthwana, dijelaskan bahwa parfum merupakan campuran bahan kimia yang kompleks. Bahkan, satu produk parfum dapat mengandung puluhan hingga ratusan senyawa.

Di banyak negara, produsen diperbolehkan hanya mencantumkan istilah “fragrance” atau “parfum” pada label, sehingga konsumen tidak mengetahui seluruh kandungan bahan kimia yang digunakan.

Parfum adalah campuran bahan kimia yang kompleks yang dapat mengandung puluhan hingga ratusan bahan. Di banyak negara, perusahaan hanya perlu mencantumkan kata ‘fragrance’ atau ‘parfum’, sehingga masing-masing bahan kimia tidak harus diungkapkan kepada konsumen,” demikian penjelasan yang diterjemahkan dari unggahan tersebut.

Kekhawatiran terhadap penggunaan parfum muncul karena beberapa produk diketahui dapat mengandung phthalates, paraben, maupun triclosan. Ketiga senyawa tersebut dalam sejumlah penelitian dikategorikan sebagai endocrine-disrupting chemicals (EDCs) atau bahan yang berpotensi mengganggu sistem hormon tubuh jika terjadi paparan berulang dalam jangka panjang.

Namun, para ahli menegaskan bahwa belum ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan bahwa menyemprotkan parfum di leher secara langsung menyebabkan gangguan tiroid atau kanker.

Pakar Multiomics Cancer IPB University, dr. Agil Wahyu Wicaksono, MBiomed, menjelaskan bahwa hubungan antara parfum dan gangguan tiroid masih sebatas indikasi ilmiah, bukan hubungan sebab-akibat yang telah terbukti.

“Berdasarkan sebuah studi tinjauan sistematis, kebiasaan menyemprotkan parfum, termasuk di area leher, berkaitan dengan risiko gangguan kelenjar tiroid. Adapun hubungan dengan kanker tiroid masih bersifat hipotesis dan belum terbukti secara langsung,” ujar dr. Agil.

Ia menambahkan bahwa kulit leher relatif lebih tipis dibandingkan beberapa bagian tubuh lain sehingga paparan bahan kimia secara berulang berpotensi meningkatkan penyerapan zat ke dalam tubuh.

Meski demikian, efek tersebut tidak terjadi secara instan dan dipengaruhi oleh frekuensi penggunaan, durasi paparan, serta jenis bahan yang terkandung dalam parfum.

Selain potensi paparan bahan kimia, dokter spesialis dermatologi juga mengingatkan bahwa menyemprotkan parfum langsung ke kulit leher dapat memicu iritasi, dermatitis kontak, hingga hiperpigmentasi, terutama jika area tersebut sering terpapar sinar matahari.

Karena itu, sebagian ahli menyarankan parfum disemprotkan pada pakaian atau area tubuh yang lebih minim paparan sinar matahari, serta memilih produk dengan komposisi yang lebih transparan atau berlabel phthalate-free apabila memungkinkan.