Jakarta, GPriority.co.id – Belum lama ini Australia resmi melarang penggunaan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun. Larangan ini untuk pertama kalinya diberlakukan di dunia.
Bukan tanpa alasan, pemerintah Australia menilai kebijakan ini untuk menghindari kebiasaan anak menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar, dan melihat konten yang dapat membahayakan kesehatan mental mereka.
Menurut penelitian, 96 persen anak-anak Australia berusia 10 hingga 15 tahun menggunakan media sosial. Sementara 7 dari 10 anak telah terpapar konten berbahaya seperti konten yang mempromosikan kekerasan, misogini, gangguan makan, hingga bunuh diri.
Sebelumnya dalam penelitian pada tahun 2019 yang dilakukan terhadap warga Amerika berusia 12 hingga 15 tahun menemukan bahwa anak-anak yang menghabiskan lebih dari tiga jam sehari di media sosial dua kali lipat berisiko memiliki kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.
Begitupun pada penelitian lainnya yang menunjukkan bahwa semakin sering remaja menggunakan media sosial, semakin besar kemungkinan mereka mengembangkan pikiran dan perilaku yang terkait dengan gangguan makan, terutama di kalangan anak perempuan.
Penggunaan media sosial berlebihan pada anak juga memengaruhi perilaku ingin melukai diri sendiri atau bunuh diri. Studi melaporkan, 14,8 persen anak muda yang dirawat di rumah sakit jiwa disebabkan karena upaya mereka ingin membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Mereka disebut sering mengunjungi situs web yang mendorong bunuh diri, dua minggu sebelum dirawat.
Tak sampai disitu, penelitian juga menyebut remaja yang terpapar unggahan yang menampilkan perilaku berisiko seperti minum alkohol, penggunaan narkoba atau aksi nekat, dapat dengan mudah memengaruhi anak untuk meniru.
Selain kesehatan mental, penggunaan media sosial bagi anak di bawah umur juga dapat memperburuk kesehatan fisik mereka.
Anak-anak di bawah 12 tahun yang lebih sering bermain sosmed atau gadget, cenderung mengalami obesitas dan kebiasaan tidur yang buruk. Kebiasaan ini juga memicu mereka memiliki gaya hidup yang kurang aktif. Bukan hanya kesehatan mental dan fisik, aktivitas sosial mereka juga terganggu.
Media sosial juga memengaruhi prestasi akademik anak. Menurut studi di bulan Oktober lalu, anak-anak yang menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial mendapat nilai lebih rendah dalam tes membaca, kosakata, hingga daya ingat. Semakin sering mereka menggulir layar gadget dan melihat media sosial, semakin buruk prestasi mereka di sekolah.
Lalu, apakah media sosial tak memiliki dapat positif?
Sebenarnya, jika digunakan secara bertanggung jawab, media sosial terbukti membantu kaum muda untuk menemukan komunitas, membangun persahabatan, dan terhubung dengan orang lain yang memiliki minat atau pengalaman yang sama.
Media sosial juga memberi kesempatan bagi remaja untuk mengekspresikan diri, mencari dukungan, dan terinspirasi dari orang lain untuk menghadapi tantangan dalam hidup.
Fakta ini didukung oleh sebuah survei yang menemukan bahwa 74 persen remaja mengatakan media sosial membantu mereka merasa lebih terhubung dengan teman-teman. Sementara, 63 persen mengatakan media sosial memberi mereka ruang untuk menunjukkan sisi kreatif mereka.
