Quiet Ambition: Ketika Gen Z Tak Lagi Ambisius Mengejar Karier

Fenomena quiet ambition makin ramai di kalangan Gen Z saat ini/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik Fenomena quiet ambition makin ramai di kalangan Gen Z saat ini/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Fenomena quiet ambition saat ini marak dijalankan sebagian besar Gen Z. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang menjalankan hustle culture.

Sebagai informasi, hustle culture merupakan budaya kerja keras yang melampaui batas kemampuan untuk mengejar kesuksesan. Seseorang yang menjalankannya sering kali mengabaikan istirahat hingga work-life balance. Hal tersebut berbeda dengan Gen Z yang memilih untuk hidup tenang.

Dilansir dari laporan NY Post, kebanyakan Gen Z saat ini tak lagi berambisi mengejar karier. Justru, mereka lebih berambisi mengutamakan work-life balance. Kondisi inilah yang kemudian disebut fenomena quite ambition.

Secara mendalam, quite ambition merupakan bentuk ambisi untuk tidak lagi mencari validasi, perhatian publik, atau penghargaan dari pihak luar. Mereka lebih fokus pada pertumbuhan diri dan pencapaian tujuan yang dinilai lebih bermakna.

Beberapa karakteristik quiet ambition antara lain, fokus pada hasil, menolak lembur kerja, memiliki batasan kerja yang jelas, lebih memprioritaskan kesehatan mental dan fisik, sampai menganggap istirahat dan self care lebih penting untuk mencegah terjadinya burnout atau tak lagi bisa berpikir masalah kerjaan.

Menurut Forbes, survei terkait fenomena ini pertama kali dilakukan LinkedIn pada tahun 2024 lalu. Hasilnya, sebanyak 72 persen Gen Z mengaku mempertimbangkan untuk meninggalkan pekerjaan yang tak menawarkan fleksibilitas.

Sejalan dengan survei tersebut, data Deloitte di tahun yang sama pun menunjukkan jika 63 persen Gen Z memilih pekerjaan yang bisa hybrid, agar dapat fleksibel bekerja dari mana saja.

Lalu, apa penyebab quiet ambition?

Menurut Upwork, ada beberapa faktor penyebab pergeseran perilaku ini. Salah satunya karena Gen Z tumbuh dengan menyaksikan generasi sebelumnya yang mengalami burnout akibat mengejar kesuksesan hingga mengorbankan hidupnya.

Namun pada kenyataannya, kerja keras mereka tak membuahkan keamanan dalam pekerjaan hingga kepuasan dalam hidup. Pada akhirnya, Gen Z pun skeptis pada nilai-nilai yang dijanjikan oleh hustle culture. Kondisi ini pun menimbulkan dampak positif dan negatif.

Dampak positif dari quite ambition ialah meningkatkan kepuasan kerja dan menghindari burnout. Hal ini tentu berbanding terbalik dengan kerja berlebih yang menurunkan kepuasan kerja secara signifikan.

Sementara dampak negatifnya ialah potensi terjadinya underperformance apabila tidak dikelola dengan baik. Kondisi ini akan membuat karyawan hanya melakukan bare minimum pekerjaan tanpa inisiatif tambahan, jika tak ada struktur yang tepat.