Jakarta, GPriority.co.id – Setelah adanya insiden pencemaran air Sungai Cisadane beberapa waktu lalu akibat tumpahan sekitar 2,5 ton pestisida, peneliti BRIN pun memberikan peringatan kepada publik.
Sebagaimana dilansir dari laman resmi BRIN, Senin (16/2), pencemaran air Sungai Cisadane tersebut dilaporkan meluas hingga radius 22,5 kilometer. Akibat insiden ini, wilayah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, hingga Kota Tangerang Selatan menjadi terkena dampaknya.
Menurut Peneliti Ahli Utama Bidang Teknik Lingkungan dari Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air BRIN, Prof. Dr. Ignasius D.A. Sutapa, M.Sc., kasus ini menjadi pertanda krisis ekologis yang membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi.
Padahal, menurut Ignas, Sungai Cisadane menjadi arteri vital yang menyuplai kebutuhan air baku, irigasi, serta juga menopang ekosistem perairan di wilayah pada penduduk dan industri.
“Selama ini, sungai tersebut memang disinyalir menghadapi persoalan pencemaran kronis dari limbah domestik, industri, dan pertanian. Namun, insiden kali ini bersifat akut karena melibatkan volume besar zat beracun yang masuk secara tiba-tiba ke badan air,” jelas Ignas melalui pesan tertulis.
Lebih lanjut Ignas menjelaskan, penyebaran pestisida hingga 22,5 kilometer terjadi akibat mekanisme hidrodinamika sungai. Ketika beban pencemaran dalam jumlah besar masuk secara mendadak, kapasitas alami sungai untuk melakukan dilusi dan asimilasi terlampaui. Kontaminan kemudian terbawa arus melalui proses dispersi dan difusi mengikuti debit aliran sungai.
Karakteristik kimia pestisida turut mempercepat penyebaran. Jika zat tersebut memiliki kelarutan tinggi dalam air dan relatif stabil dalam lingkungan perairan, maka konsentrasinya dapat bertahan cukup lama untuk menyebar secara homogen sepanjang koridor sungai.
“Kondisi ini memungkinkan wilayah hilir, termasuk lokasi pengambilan air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), ikut terdampak,” lanjutnya.
Akibat konsentrasi pestisida yang tinggi, dapat menyebabkan kematian massal biota air seperti ikan, zooplankton, dan fitoplankton. Insiden ikan mati mendadak kerap menjadi indikator paling jelas adanya pencemaran toksik di perairan.
Sementara itu dari sisi kesehatan publik, paparan pestisida bisa terjadi melalui kontak langsung seperti mandi dan mencuci, maupun secara tidak langsung melalui konsumsi air baku atau ikan yang telah tercemar. Ignas menjelaskan bahwa jenis pestisida tertentu, terutama yang bersifat neurotoksik, dapat menyebabkan gejala akut seperti mual, pusing, gangguan saraf, hingga kematian tergantung dosis paparan.
“Dalam jangka panjang, paparan kronis berpotensi memicu gangguan endokrin, kerusakan organ, bahkan risiko karsinogenik,” ungkapnya.
Kendati demikian, Ignas mengimbau masyarakat untuk tidak panik sembari tetap waspada mengikuti instruksi resmi pemerintah dan PDAM ke depannya.
“Jangan menggunakan air sungai untuk memasak, minum, mencuci, atau mandi sampai ada pernyataan bahwa air telah aman. Hindari konsumsi ikan dari wilayah terdampak selama masa krisis,” imbaunya.
