Aceh, GPriority.co.id – Bupati Aceh Tamiang, Aceh, Armia Pahmi mengapresiasi dan siap mendukung penuh atas rencana perusahaan asal Bandung, Jawa Barat, Mycelium Leather (MYCL) yang akan melakukan investasi di Kabupaten Aceh Tamiang dengan mendirikan pabrik kulit berbahan jamur.
Armia menyebut ini merupakan peluang yang harus diambil oleh daerah itu. Sebab, kata dia, investasi oleh MYCL itu nantinya dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat serta penyerapan tenaga kerja lokal.
“Saya sangat kagum dengan inisiatif anak-anak muda dari Bandung yang memanfaatkan jamur sebagai komoditas ekspor ramah lingkungan. Ini juga menjadi peluang nyata untuk penyerapan tenaga kerja lokal,” ungkap Bupati Aceh Tamiang kepada GPriority, Selasa (29/7) kemarin.
Untuk itu, Armia mengaku pemkab Aceh Tamiang berkomitmen akan memfasilitasi dan mendukung setiap proses investasi ramah lingkungan untuk daerah itu.
“Harapannya ini agar dapat segera terealisasi sehingga manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat Aceh Tamiang,” ujarnya.
Seperti diketahui, Mycelium Leather (MYCL) merupakan perusahaan asal Bandung yang telah memiliki pangsa pasar di Eropa dan Amerika Serikat. MYCL merupakan perusahaan yang memproduksi fashion kulit ramah lingkungan berbahan jamur dan saat ini telah memiliki cabang di Jepang. Rencana pendirian pabrik di Aceh Tamiang dilakukan untuk memperluas produksi dengan memanfaatkan bahan baku lokal yang ramah lingkungan.
Keseriusan ini disampaikan langsung oleh CEO MYCL, Adi R. Nugroho, saat bertemu dengan Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH, pekan lalu.
Selama ini, MYCL memproduksi kulit jamur menggunakan serbuk kayu, namun hasilnya belum optimal. Dengan semangat peduli lingkungan, MYCL berupaya mencari alternatif bahan baku yang lebih sesuai. Setelah melakukan serangkaian uji coba pada beberapa komoditas seperti bongkol jagung dan sekam padi, pelepah kelapa sawit terbukti paling cocok karena kandungan selulosanya tinggi.
MYCL memastikan hanya akan menggunakan pelepah sawit dari kebun yang telah bersertifikat internasional ISPO dan RSPO ketika sudah berproduksi di Aceh Tamiang nantinya. Hal ini sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan komitmen perlindungan lingkungan di Aceh Tamiang.
Dalam beroperasi nanti, MYCL akan dibantu oleh Pusat Unggulan Perkebunan Lestari (PUPL) dan Forum Konservasi Leuser (FKL) bersama sejumlah lembaga donor telah membina sekitar 2.200 petani sawit di Aceh Tamiang melalui empat koperasi dan satu perkumpulan petani sawit bersertifikat. Pasokan pelepah sawit dari petani binaan ini diyakini dapat memenuhi kebutuhan bahan baku MYCL untuk produksi kulit jamur.
Kehadiran MYCL di Aceh Tamiang juga akan mendukung pengurangan limbah kebun sawit, membuka peluang ekonomi sirkular, serta menjadi langkah nyata dalam mewujudkan Aceh Tamiang sebagai daerah sawit berkelanjutan.
