BRIN Soal Kecelakaan KA di Bekasi: Kita Akan Kaji

Jakarta, GPriority.co.id – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria merespons kecelakaan tragis yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur.

Ia menegaskan bahwa peristiwa tersebut akan menjadi bahan kajian penting untuk memperkuat sistem keselamatan perkeretaapian nasional.

Dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (28/4), Arif menyampaikan bahwa BRIN saat ini tengah mengembangkan teknologi pemantauan berbasis real time untuk mengaudit kondisi infrastruktur rel, khususnya di area jembatan.

“Beberapa teknologi yang sudah kita lakukan kajian, nah memang begitu bicara perkereta api kan bicara satu teknologi ya aspek sarananya tapi kita juga bicara tentang aspek prasarannya. Saya sampaikan itu adalah tentang Structural Health Monitoring System (SHMS) untuk yang prasara untuk kita melakukan audit terhadap jembatan kereta api dan sistem ini bisa memberikan informasi real time ini saya kira sangat bagus,” kata Arif di Jakarta, Selasa (28/4).

Selain itu, BRIN juga tengah mengembangkan berbagai kajian lain yang mencakup pemodelan performa hingga inovasi teknologi untuk kereta api cepat.

“Terkemasuk kajian-kajian riset pemodelan performasi dan provokulasi kereta api cepat ya dan kemudian juga prototip yang otomatis sliding plug door sistem untuk kereta api cepat untuk kereta api cepat ada berapa ini ada beberapa teknologi yang selalu kita lakukan kajian,” tuturnya.

Arif mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar 20 riset perkeretaapian yang sedang berjalan di BRIN, didukung fasilitas dan alat uji yang dinilai sudah memadai.

Menurutnya, kecelakaan kereta api tidak bisa dilihat dari satu faktor saja, melainkan melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan.

“Ke depan, berbagai kejadian terbaru dapat menjadi tema riset lanjutan, mengingat kecelakaan kereta api umumnya bersifat multi-aspek, yang meliputi faktor teknologi, perilaku, dan sosial, karena kereta api merupakan sebuah ekosistem, sehingga persoalannya tidak bisa dilihat dari satu sisi saja,” ujarnya.

Lebih lanjut, Arif menekankan bahwa ekosistem perkeretaapian yang kompleks menjadi perhatian serius para peneliti. BRIN juga tengah merevitalisasi kerja sama dengan PT Industri Kereta Api di Madiun, Jawa Timur, guna memperkuat kolaborasi riset dan pengembangan teknologi transportasi rel.

“BRIN tidak hanya fokus pada riset teknologi, tetapi juga mencakup aspek hukum, sosial, dan kebijakan, guna memberikan solusi komprehensif bagi berbagai tantangan nasional,” demikian Arif Satria.