Bukan Opini! Ini Fakta Sains tentang LGBT Menurut Guru Besar UI

Prof. Agustino Zulys, Guru Besar FMIPA UI membahas terkait fenomena LGBT yang kian marak/Foto : Dok. Instagram @prof.zulys & ilustrasi Shutterstock Prof. Agustino Zulys, Guru Besar FMIPA UI membahas terkait fenomena LGBT yang kian marak/Foto : Dok. Instagram @prof.zulys & ilustrasi Shutterstock

Jakarta, GPriority.co.id – Fenomena LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender), kini semakin berkembang luas. Saat ini dengan mudahnya golongan LGBT mulai terang-terangan akan kehidupannya.

Berbagai perdebatan pun muncul baik dari sudut pandang agama, budaya, hingga politik. Namun, menurut Prof. Agustino Zulys, M.Sc., Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), fenomena LGBT juga dapat dipelajari melalui pendekatan ilmiah yang berbasis data dan penelitian.

Dalam unggahan edukatif yang dibagikan melalui Instagramnya, pria yang akrab disapa Prof. Zulys itu mengajak masyarakat untuk melihat isu LGBT secara lebih objektif, ketimbang langsung naik pitam saat mendengar istilah tersebut.

Prof. Zulys pun membahasnya lebih lanjut melalui temuan-temuan sains, terutama yang berkaitan dengan kesehatan fisik, kesehatan mental, serta kemampuan manusia dalam mengendalikan dorongan dan perilaku.

“Dari sisi kesehatan, WHO dan CDC menempatkan kelompok pria yang melakukan hubungan seksual sesama jenis, MSM, sebagai kelompok dengan resiko lebih tinggi terhadap HIV, sifilis, gonore, hepatitis, dan infeksi HPV,” jelasnya.

Dari sisi biologi, pria yang berhubungan seksual dengan sesama jenisnya, memiliki jaringan rektum yang lebih tipis dan lebih mudah mengalami luka mikro. Akibatnya, resiko peularan penyakit menular seksual menjadi lebih tinggi. Bahkan beberapa infeksi HPV dapat meningkatkan resiko kanker anus dan kanker terkait HPV lainnya.

Sementara itu dari sisi psikologi, jelas Prof. Zulys, berbagai penelitian menunjukkan angka depresi, kecemasan, kesepian, penyalahgunaan zat, hingga pikiran bunuh diri, lebih tinggi pada komunitas LGBT dibandingkan dengan populasi umum.

“Penyebabnya bisa karena konflik identitas, tekanan sosial, penolakan keluarga, atau faktor psikologis lainnya. Yang jelas ini menunjukkan bahwa persoalan ini tidak sesederhana slogan ‘bebas jadi diri sendiri’,” ujarnya.

Tak sampai disitu, dari sisi spiritualitas, dalam Islam manusia tidak diukur dari apa yang ia inginkan, melainkan dari kemampuannya mengendalikan keinginan.

Secara neuroscience, otak manusia memiliki prefrontal cortex atau pusat pengendalian diri yang berfungsi mengendalikan impuls dari sistem limbik.

“Jadi pengendalian diri bukan hanya konsep agama, tetapi juga bagian dari desain biologis dan psikologis manusia. Dalam Islam pengendalian diri disebut takwa, dalam sains disebut self-regulation,” tekannya.

Di akhir penjelasannya, Prof. Zulys mengajak siapa pun yang tengah berjuang akan orientasi seksualnya untuk mencari bantuan dari orang-orang terdekat seperti keluarga, sahabat terpercaya, tokoh agama, hingga tenaga profesional.

“Meminta bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Mana yang lebih sulit, antara melawan musuh di luar diri atau mengendalikan keinginan dalam diri?,” tuturnya.

Prof. Zulys menekankan kembali bahwa sains tidak berfungsi untuk menentukan ebnar atau salah secara moral, melainkan menjelaskan fakta, mengumpulkan bukti, hingga memahami fenomena berdasarkan metode penelitian yang dapat diuji.

Selain itu, fenomena LGBT juga dapat dipelajari sebagai bagian dari perilaku manusia yang kompleks, dengan pendekatan yang berfokus pada data, penelitian, dan pemahaman yang objektif terhadap berbagai faktor yang memengaruhinya.