Balikpapan, GPriority.co.id – Pejabat (Pj.) Wali Kota Tarakan, Bustan mengungkapkan cara dalam menghadapi beban berat kota yang diprediksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) bakal terjadi pada 2045. Menurut Bustan, beberapa upaya dapat dilakukan seperti perencenaan pembangunan serta kemudahan investasi.
“Ini harus diantisipasi, kita rencanakan dengan baik, mulai rencanakan baik RPJMD, kemudian rencana kerja daerah di tahun – tahun berikutnya, sehingga beban kota tidak terlalu memberatkan,” ujar Pj. Bustan kepada GPriority saat Rakernas Apeksi di Balikpapan Sport and Convention Center, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, pada Selasa (4/6).
Selain itu, Kota Tarakan yang memiliki jumlah penduduk kurang lebih 250 ribu jiwa ini, kata Bustan, terus didorong untuk mengurangi jumlah pengangguran yang terus meningkat.
Untuk itu, Bustan yang menganggap jika Kota Tarakan sebagai kota perdagangan itu membuka lebar-lebar potensi investasi, sehingga penyerapan tenaga kerja dapat terbuka luas.
“Pengangguran itu harus benar-benar menjadi perhatian, dengan jumlah penduduk kurang lebih 250 ribu, saya yakin sesuai dengan data makro tingkat pengangguran terbuka setiap tahun terus terjadi. Untuk itu, kita berupaya memberikan kemudahan dengan investasi, kemudahan perizinan, kepastian hukum, kemudian mengupayakan tenaga kerja lokal untuk masuk di dalam Perusahaan-perusahaan di Kota Tarakan,” tuturnya.
Sebelumnya, Jokowi mengingatkan soal persiapan yang matang dalam menghadapi tantangan di mana pada tahun 2045 mendatang 70 persen penduduk Indonesia diprediksi akan tinggal di perkotaan.
“Sudah sering saya sampaikan bahwa di tahun 2045, 70 persen penduduk kita ini akan ada di perkotaan. Kalau dunia di tahun 2050? 80 persen penduduk dunia akan di perkotaan. Apa yang akan terjadi? Beban kota akan menjadi sangat berat,” kata Presiden Jokowi saat membuka Rakernas Apeksi 2024.
Menurut Presiden, rencana kota yang detail untuk setiap kota di Indonesia penting dilakukan. Hal tersebut agar fenomena seperti di Eropa atau Amerika, di mana kota-kota menjadi mencekam akibat tingginya tingkat pengangguran dan jumlah orang yang menjadi tunawisma, tidak terjadi di Indonesia. “Kita tidak ingin itu terjadi di negara kita Indonesia,” ungkap Presiden.
Foto: GPriority
