Jakarta, GPriority.co.id – Menanggapi kebijakan tarif terbaru Presiden AS Donald Trump yang menaikkan total bea masuk AS atas barang-barang China menjadi 104 persen, kini China menaikkan bea masuk impornya dari 34 persen dan ditambah 50 persen lagi, sehingga totalnya menjadi 84 persen.
Langkah-langkah baru tersebut mulai berlaku pada hari Kamis (10/4), dan menargetkan ekspor utama AS termasuk semikonduktor, mesin, dan pertanian, seperti dikutip dari Financial Times.
Selain itu, China juga mengenakan bea masuk sebesar 15 persen atas barang-barang AS senilai USD 34 miliar (sekitar Rp 574 triliun), dengan rencana untuk memperluas bea masuk atas barang-barang AS senilai USD 16 miliar (sekitar Rp 271 triliun).
Kebuntuan yang meningkat tersebut telah mengguncang pasar, salah satunya memicu penurunan nilai Apple Inc. sebesar USD 300 miliar (sekitar Rp 5,08 kuadriliun).
Dalam pernyataan kepada Organisasi Perdagangan Dunia, Pemerintah China menjelaskan bahwa kebijakan tarif AS memperburuk situasi. Mereka juga menyatakan penolakan keras terhadap tindakan tersebut.
Lebih jauh, meskipun terjadi gejolak pasar, Presiden Trump telah menepis kekhawatiran dan mengirimkan sinyal yang beragam dengan menyatakan bahwa tarif tersebut bersifat ‘permanen’ sekaligus mengklaim bahwa tarif tersebut merupakan alat yang efektif untuk menekan para pemimpin negara lain agar bernegosiasi.
Nilai Tukar Yuan Tertekan
Lebih lanjut, China menilai jika surplus perdagangannya dengan AS sebagai hal yang wajar, dan menegaskan kesiapannya untuk terus melawan kebijakan dagang agresif AS. Sementara di sisi lain, Trump menganggap jika neraca perdagangan yang timpang, merugikan Amerika.
Adapun akibat kebijakan ini, nilai tukar yuan tertekan dan mencatat rekor terendah, meskipun bank sentral China berusaha menstabilkan mata uang dengan membatasi pembelian dolar AS. China juga telah menyampaikan keluhan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), serta menegaskan bahwa tindakan AS berisiko memperburuk stabilitas perdagangan internasional dan menyebut situasi ini semakin berbahaya.
Editor: Novita Intan
Foto : Ilustrasi/USNews
