Jakarta, GPriority.co.id – Media sosial tengah viral dengan video seorang bayi yang memiliki paras cantik bak boneka. Dibalik itu, bayi perempuan yang diketahui bernama Rana tersebut ternyata menderita penyakit Craniosynostosis.
Craniostynostosis atau kraniosinostosis merupakan kondisi yang ada sejak lahir. Kondisi ini menyebabkan satu atau lebih sendi di antara tulang tengkorak bayi menutup terlalu cepat, sebelum otak terbentuk sempurna.
Dilansir GPriority dari laman Mayo Clinic, tengkorak bayi terdiri dari lempengan-lempengen tulang kecil yang dihubungkan oleh sendi-sendi berserat fleksibel yang disebut sutura.
Sutura memungkinkan tengkorak bayi membesar seiring pertumbuhan otak. Sutura kemudian akan menutup ketika pertumbuhan otak telah selesai.
Craniostynostosis biasanya melibatkan penutupan dini salah satu jahitan tengkorak, tetapi dapat melibatkan lebih dari satu. Pertumbuhan otak terus berlanjut bahkan ketika satu atau lebih jahitan menutup terlalu dini. Jahitan yang terbuka di sisi lain kepala memungkinkan pertumbuhan otak ke arah tersebut. Hal ini menyebabkan kepala memiliki bentuk yang tidak lazim.
Pengobatan kraniosinostosis melibatkan pembedahan untuk membentuk kembali tengkorak. Diagnosis dan pengobatan dini memungkinkan otak bayi memiliki cukup ruang untuk tumbuh dan berkembang.
Setelah operasi, sebagian besar anak berkembang seperti yang diharapkan dan memiliki bentuk wajah dan kepala seperti anak pada umumnya.
Gejala Craniostynostosis
Gejala Craniosynostosis biasanya dapat terlihat saat lahir. Gejala tersebut menjadi lebih mudah terlihat selama beberapa bulan pertama kehidupan bayi.
Gejala dan tingkat keparahannya bergantung pada berapa banyak jahitan yang tertutup dan kapan penutupan terjadi selama perkembangan otak. Gejalanya dapat meliputi:
• Tengkorak dengan bentuk yang tidak lazim. Bentuknya bergantung pada jahitan mana yang tertutup. Otak terus tumbuh di sisi dengan jahitan yang terbuka, mengubah bentuk kepala.
• Perubahan keseimbangan fitur wajah dan telinga. Misalnya, satu mata mungkin lebih tinggi daripada mata lainnya.
• Tonjolan keras yang menonjol di sepanjang jahitan tengkorak yang tertutup.

Penyebab Craniostynostosis
Seringkali penyebab kraniosinostosis tidak diketahui. Namun terkadang hal itu terkait dengan kondisi genetik.
• Kraniosinostosis nonsindromik adalah jenis yang paling umum. Penyebabnya belum diketahui, tetapi diduga merupakan gabungan faktor genetik dan lingkungan.
• Kraniosinostosis sindromik disebabkan oleh perubahan gen tertentu yang menyebabkan sindrom genetik. Contohnya termasuk sindrom Apert, sindrom Pfeiffer, dan sindrom Crouzon. Sindrom-sindrom ini dapat memengaruhi perkembangan tengkorak bayi. Biasanya, sindrom ini juga mencakup perubahan fisik dan kondisi kesehatan lainnya.
Jika tidak diobati, penyakit ini dapat menyebabkan perubahan permanen pada bentuk kepala dan wajah, serta menurunkan percaya diri anak. Selain itu, tekanan yang lebih tinggi di dalam tengkorak juga dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan, masalah dalam berpikir, mengingat, dan belajar, kebutaan, kejang, serta sakit kepala pada anak.
