Dispar Kaltara Berkunjung ke Proyek Strategis Nasional PT KIPI

Tanah Kuning, GPriority.co.id – Dinas Pariwisata (Dispar) Kalimantan Utara (Kaltara) berkunjung ke kawasan proyek strategis Nasional (PSN) PT Kalimantan Industrial Park Indonesia di Tanah Kuning, Bulungan pada Sabtu (6/7).

Kunjungan ini merupakan rangkaian Rapat Koordinasi (Rakor) Pariwisata di Bidang Pemasaran dan Ekonomi Kreatif Kalimantan Utara (Kaltara) yang digelar pada 4-7 Juli 2024.

Dalam pantauan GPriority, Kepala Dinas Pariwisata Kaltara Njau Anau berserta 35 peserta tampak antusias mengikuti kunjungan, dimana sebagian besar peserta baru pertama kali mengunjungi proyek yang digadang-gadang sebagai kawasan industri terbesar di dunia itu.

Diawali dengan menyambangi kantor PT KIPI, rombongan Dispar disambut langsung beberapa pekerja salah satunya Project Koordinator PT KIPI, Ahmad Suhandi yang turut menjelaskan kemajuan pembangunan proyek.

Selanjutnya, para peserta diajak menengok langsung kondisi di areal konstruksi. Walau medan yang cukup berat tak menjadi penghalang untuk dapat menjajaki kawasan yang pernah ditinjau Presiden Joko Widodo pada Selasa, 28 Februari 2023 lalu.

Salah satu peserta, Hendri yang mewakili Desa Wisata Setulang, Malinau mengaku takjub terhadap kemajuan pembangunan PT KIPI. Dia juga tak henti-hentinya mengabadikan momen yang mungkin tidak terulang itu.

Setelah dirasa puas mengunjungi kawasan, para peserta pun meninggalkan lokasi. Kepala Dinas Pariwisata Kaltara, Njau Anau menyampaikan terima kasih kepada pihak PT KIPI yang telah mengizinkan rombongan untuk berkungjung.

Dia berharap pembangunan KIPI berjalan sesuai rencana target yang telah dicanangkan. Selain itu, dia juga mengharapkan kehadiran KIPI juga mampu mendongkrak pariwisata di Kaltara.

“Terima kasih saya sampaikan kepada pihak PT KIPI yang telah mengizinkan kami untuk berkungjung,” ucapnya.

Untuk diketahui, PT KIPI disebut sebagai kawasan industri terbesar di dunia, dengan luas 30.000 hektar. Proyek ini ditargetkan selesai konstruksi pada 2024 dan operasi bertahap mulai 2023, 2024 hingga 2029. Adapun, investasi senilai US$132 miliar itu diperlukan untuk seluruh tahapan konstruksi dan komersialisasi sampai delapan tahun ke depan.

Foto: Dimas A Putra/GPriority