DPR: Konsumsi Listrik RI Baru 1.400 kWh, Tertinggal dari Negara Tetangga

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto dalam Seminar Nasional Outlook Energi Indonesia 2026: Strategi Mewujudkan Diversifikasi dan Kemandirian Energi Nasional di Jakarta Pusat, Senin (9/12)/Foto Fifi Abdurahman Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto dalam Seminar Nasional Outlook Energi Indonesia 2026: Strategi Mewujudkan Diversifikasi dan Kemandirian Energi Nasional di Jakarta Pusat, Senin (9/12)/Foto Fifi Abdurahman

Jakarta, GPriority.co.id – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto, menyoroti rendahnya konsumsi listrik per kapita di Indonesia yang saat ini baru mencapai 1.400 kWh. Angka tersebut tertinggal jauh dibandingkan negara-negara ASEAN.

Hal itu disampaikan Sugeng dalam Seminar Nasional Outlook Energi Indonesia 2026: Strategi Mewujudkan Diversifikasi dan Kemandirian Energi Nasional di Jakarta Pusat, Senin (9/12).

“Indonesia termasuk rendah dalam konsumsi listrik per kapita. Hari ini baru kWh per kapita saja, bandingkan dengan sesama ASEAN saja,” kata Sugeng.

“Kita jangan bicara tentang Singapura, Singapura sudah kWh jam. Kita bicara tentang Brunei Darussalam, memang besar sekali 8.000 dan sebagainya,” tambahnya.

Menurut Sugeng, konsumsi listrik Indonesia hanya lebih tinggi dari Timor Leste, Myanmar, Kamboja, dan Filipina. 

Dia menilai, kondisi ini menjadi tantangan besar secara kuantitatif, mengingat listrik merupakan salah satu parameter penting untuk mengukur kemajuan dan daya saing suatu negara.

“Apalagi hari-hari ini listrik sudah menjadi basic need, kebutuhan pokok. Kebutuhan pokok kan sandang, pangan, papan. Tapi listrik energy sudah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat peradaban,” ucap Politisi Partai NasDem itu.

Sugeng menegaskan bahwa program kelistrikan dalam APBN 2025–2026 diarahkan untuk memastikan listrik hadir di setiap rumah tangga di Indonesia.

“Maka dari itu program ke listrik ke APBN tahun 2025-2026 adalah bagaimana menetaskan listrik hadir di setiap rumah tangga,” pungkasnya.