Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infrastruktur) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menanggapi rencana peluncuran proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (Waste to Energy) di 33 kota di Indonesia oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (Kemeninveshil/BKPM).
Menurut dia, persoalan sampah harus ditangani secara menyeluruh dari hulu ke hilir, dengan berbagai cara dan melibatkan banyak pihak.
“Jadi tidak terjebak hanya di satu fase, semuanya penting dan berkontribusi pada pengurangan sampah, terutama di kota-kota besar. Tadi sebutkan Jakarta menghasilkan 7.000–8.000 ton per hari, dan kota lain setidaknya 1.000–1.500 ton,” kata AHY kepada wartawan di Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025, Jumat (10/10).
Ia menegaskan, penanganan sampah membutuhkan infrastruktur memadai serta upaya pencegahan dari sumbernya.
“Artinya perlu penanganan menggunakan infrastruktur. Dari hulu, artinya kita harus melakukan reduksi produksi sampah dari rumah tangga maupun industri, butuh edukasi, sosialisasi, dan penegakan hukum (enforcement),” tambahnya.
Selain itu, AHY menekankan pentingnya pemilahan sampah di titik pengumpulan, dengan melibatkan masyarakat agar program lebih efektif dan berkelanjutan.
“Jadi penanganan sampahnya tidak hanya memakai satu formula. Ketika skalanya belum terlalu besar seperti kota-kota metropolitan, justru pemerintah daerah dan ada contoh sukses itu melibatkan masyarakat,” ucapnya.
Dengan begitu, lanjut AHY, perputaran ekonomi dengan memberdayakan masyarakat terutama kaum wanita terjadi.
Lebih lanjut, AHY mengibaratkan bahwa persoalan sampah seperti penyakit yang memerlukan penanganan berbeda-beda tergantung tingkat keparahannya.
“Nah, tadi yang diceritakan pak Rosan itu sudah pada titik yang luar biasa, harus ditangani oleh teknologi. Dengan incinerator misalnya, kita bukan hanya mengikis tetapi juga mengkonversi bahkan menjadi energi yang terbarukan. Disinilah ada peluang baru ada business opportunity,” ucap AHY.
AHY menegaskan bahwa Kemenko Infrastruktur bersama Kementerian Pekerjaan Umum akan terus mengawal setiap tahapan proyek tersebut, termasuk memastikan teknologi yang digunakan kredibel dan tersedia.
“Kalau bicara mahal, tidak mahal tergantung tujuan kita apa. Kalau tujuan kita memang mengurangi sampah yang menjadi sumber polusi dan meresahkan masyarakat, kesehatan terganggu, polusi, maka seharusnya itu menjadi prioritas. Dan kita akan kawal itu,” imbuhnya.
Dia lalu menekankan pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki visi-misi yang sama demi terselenggaranya proyek ini.
“Sekali lagi infrastruktur, polusi, regulasi dann sekali lagi financingnya harus ada. Karena kalau tidak ada sampai kapanpun tidak akan hadir teknologi yang mumpuni tadi,” pungkas AHY.
Pewarta : Fifi Abdurahman
