Jakarta, GPriority.co.id – Indomie menjadi salah satu merk mie instan tanah air yang tidak hanya digemari masyarakat Indonesia, tetapi juga digemari oleh masyarakat mancanegara, begitupun di Afrika.
Sejak puluhan tahun lalu, Indomie telah melebarkan sayap di kancah internasional. Memiliki beragam varian, Indomie bahkan menjadi merk mie instan yang sukses merenggut hati masyarakat berbagai negara.
Faktanya, di Afrika Indomie bukan hanya dijadikan salah satu makanan pokok, bahkan dijadikan sebagai alat transaksi prostitusi.
Di Nigeria, Indomie dapat dengan mudah menguasai pasar mie instan. Bahkan terdapat empat pabrik Indomie di negara tersebut, yang memproduksi delapan juta bungkus Indomie per harinya.
Saat krisis ekonomi terjadi di Nigeria pada 2015 lalu, kepopuleran Indomie semakin meningkat, karena harga Indomie yang lebih murah dibandingkan bahan pokok lainnya.
Ditambah lagi, rasa Indomie juga nikmat serta mudah untuk dikonsumsi. Akhirnya Indomie menjadi alternatif pengganti nasi di Nigeria.
Alat Transaksi Prostitusi di Ghana
Sementara di Ghana, Indomie bahkan dijadikan alat transaksi prostitusi. Menurut penelitian dari Star Ghana Foundation, Indomie bahkan menjadi salah satu penyebab tingginya angka kehamilan remaja di Ghana.
Hal ini dikarenakan banyaknya gadis remaja yang rela melakukan hubungan seksual dengan pria di negara tersebut, asalkan dapat memberikan Indomie setelahnya.
Padahal harga Indomie di negara tersebut juga masih terbilang murah, berkisar Rp 2.880-Rp 4.800 per bungkusnya. Walaupun ada juga yang menjual hingga Rp 10.500 per bungkus.
Di Afrika, Indomie dijual dengan beragam rasa dalam beberapa ukuran. Bahkan ada juga ukuran Indomie jumbo dengan perbandingan 4:1 dengan Indomie ukuran biasa.
Editor: Novita Intan
Foto : Dok. Brand Times
