Filosofi Prosesi Pernikahan Adat Bugis Mappasikarawa

Memaknai filosofi upacara adat diberbagai suku di Indonesia ialah agar suami istri bisa saling mengerti sehingga tidak akan muncul pertengkaran atau perselisihan dan seandainya terjadi maka bisa dengan segera untuk saling memaafkan. Salah satunya adalah Prosesi Pernikahan adat bugis yang cukup unik yaitu Mappasikarawa.

Tradisi ini dimulai dengan ibu jari kedua pengantin dicelupkan ke dalam mangkuk air yang memiliki beberapa daun. Kemudian tangan kedua pengantin ditempatkan bersebelahan. Setelah itu, masing-masing pengantin pria dan wanita ditemani oleh anggota keluarga yang paling dihormati di keluarga mereka ambil bagian.

Kedua pihak pengantin pria dan wanita kemudian mencoba untuk menjaga jempol mereka agar berada di atas. Pengantin yang jempolnya di atas dipercaya akan lebih dominan dan memiliki kontrol lebih dalam rumah tangga mereka. Tradisi Mappasikarawa adalah satu prosesi dimana mempelai pria akan memegang beberapa bagian tubuh pasangannya untuk menandakan keduanya sah bersentuhan. Prosesi ini diawali mempelai wanita yang diam di kamar pengantin, dengan penjagaan keluarga wanita di luar kamar.

Cukup unik bukan? Sebuah ikhtiar turun temurun dari leluhur kita. Kembali lagi semua bergantung pada diri masing-masing dan pasangan kita. Apapun prosesi adatnya harus diingat menikah adalah ibadah sepanjang hayat.