Gajah Mada Sang Pemersatu Nusantara

Gajah Mada merupakan salah satu patih di Kerajaan Majapahit. Nama  Gajah Mada  dikenal karena mampu mempersatukan nusantara. Untuk memperingati jiwa patriotisme, Pemerintah DKI Jakarta menjadikan gajah mada sebagai sebuah nama jalan di kawasan Jakarta Barat.

Dilansir dari buku M.Yamin, Gajah Mada dilahirkan pada tahun 1229. Tak jelas dimana dia dilahirkan, namun berdasarkan buku yang sama, Gajah Mada dilahirkan di daerah aliran Sungai Brantas menuju Kawasan Malang.

Di usia 23 tahun, Gajah Mada memberanikan diri melamar menjadi prajurit di Kerajaan Majapahit yang kala itu dipimpin Raja Jayanegara (1309-1328). Berkat keberaniannya, Gajah Mada diangkat Jayanegara untuk menjadi kepala pasukan khusus bhayangkara.

Sebagai komandan pasukan khusus , Gajah Mada dinilai berhasil menyelamatkan nyawa Prabu Jayanegara dari pemberontakan Ra Kuti (Seorang  pegawai istana yang diistimewakan Raden Wijaya. Sebagai balas jasa, Jayanegara mengangkat Gajah Mada sebagai patih Kahuripan di Kerajaan Majapahit  menggantikan Arya Tilam.

Pengangkatan Gajah Mada sebagai patih membuat dirinya makin menunjukkan bakti kepada Majapahit dengan menaklukkan pemberontakan Keta dan Sadeng.

Tribuana Tunggadewi yang ditugaskan menjadi pelaksana tugas Kerajaan Majapahit setelah Jayanegara mangkat mengangkat Gajah Mada menjadi Mahapatih Amangkubumi menggantikan Arya Tadah yang sudah sepuh.

Usai diangkat sebagai Mahapatih pada tahun 1334 Masehi, Gajah Mada langsung mengucapkan sumpah palapa  yang berisi bahwa ia tidak akan menikmati palapa (rempah-rempah)sebelum berhasil menaklukkan Nusantara.Ia, Gajah Mada sebagai patih Amangkubumi  juga berjanji tidak ingin melepaskan puasa, bila telah mengalahkan Nusantara, “  saya baru akan melepaskan puasa, bila telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompu, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya baru akan melepaskan puasa               ,” ucap Gajah Mada dalam sumpahnya.

Menurut sejarawan Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakretagama, sumpah Gajah Mada itu menimbulkan kegemparan. Para petinggi kerajaan seperti Ra Kembar, Ra Banyak, Jabung Tarewes, dan Lembu Peteng merespons dengan negatif. Tindakan mereka membuat Gajah Mada sangat marah karena ditertawakan. Gajah Mada pun meninggalkan paseban dan terus pergi menghadap Batara Kahuripan, Tribhuana Tunggadewi. Dia sangat berkecil hati karena dapat rintangan dari Kembar, walaupun Arya Tadah membantu sekuat tenaga.

Arya Tadah memang pernah berjanji akan memberi bantuan dalam segala kesulitan kepada Gajah Mada. Namun, menurut Slamet Muljana, Arya Tadah sebenarnya juga ikut menertawakan program politik Gajah Mada itu karena pada hakikatnya, Arya Tadah alias Empu Krewes tidak rela melihat Gajah Mada menjadi patih amangkubumi sebagai penggantinya. Pengepungan Sadeng dan Keta di Jawa Timur terjadi pada tahun 1331. Ketika itu yang menjadi mahapatih adalah Arya Tadah. Dia menjanjikan kepada Gajah Mada, sepulang dari penaklukkan Sadeng dia akan diangkat menjadi patih, bukan mahapatih. Alangkah kecewanya Gajah Mada, karena Kembar mendahuluinya mengepung Sadeng. Untuk menghindari sengketa antara Gajah Mada dan Kembar, Rani Tribhuana Tunggadewi datang sendiri ke Sadeng membawa tentara Majapahit. Kemenangan atas Sadeng tercatat atas nama Sang Rani sendiri. Semua peserta penaklukan Sadeng dinaikkan pangkatnya. Gajah Mada mendapat gelar angabehi, dan Kembar dinaikkan sebagai bekel araraman. Saat itu, Gajah Mada sendiri telah menjadi patih Daha.

Usai mengucapkan sumpah dan mendapat restu dari Rani Tribhuana Tunggadewi, berangkatlah Gajah Mada ke wilayah-wilayah nusantara. Dengan kegigihannya, satu persatu wilayah nusantara bisa masuk ke dalam Majapahit.

Kesuksesan Gajah Mada inilah yang membuat dirinya hingga saat ini  dikenang oleh semua orang. Dan menjadikannya sebagai nama jalan atau universitas.(Hs.Foto.Istimewa)

 

Related posts