Jakarta, GPriority.co.id – Atlet angkat besi Nurul Akmal yang berasal dari Aceh, tengah menjadi sorotan publik. Terbaru, ia mengungkapkan kekecewaannya usai hanya diangkat menjadi PPPK.
“Tetap bersyukur walaupun P3K PW (Paruh Waktu). Padahal 2x OLY, 2x seagame, 2x asiangame, 3x emas PON dan lain-lainnya lagi. Yang tau-tau udah paham lah. Tapi ini lah hasilnya,” tulisnya dalam unggahan terbaru di akun Instagramnya.
Di dunia olahraga angkat besi, Nurul Akmal dikenal sebagai salah satu lifter putri andalan Indonesia yang memiliki segudang prestasi. Dengan rekam jejak tersebut, Nurul merasa bahwa status PPPK paruh waktu yang diterimanya belum sebanding dengan dedikasi dan prestasi yang telah ia persembahkan untuk Indonesia selama bertahun-tahun lamanya.
Kendati mengaku bersyukur tetap diakui negara, namun ia turut menyampaikan kekecewaannya terhadap keputusan tersebut.
Sebagai informasi, pengangkatan atlet berprestasi menjadi PNS diatur dalam Permenpora No. 17/2023, yang mana disebutkan bahwa atlet dapat diangkat menjadi PNS apabila memenuhi minimal salah satu kriteria prestasi. Diantaranya medali emas SEA Games, medali perunggu olimpiade, serta medai perak Asian Games.
Merujuk pada ketentuan tersebut, Nurul Akmal memang belum memenuhi syarat pengangkatan sebagai PNS. Di ajang SEA Games, ia meraih medali perak, sementara syarat yang ditetapkan adalah medali emas.
Begitupun pada Asian Games, Nurul menempati peringkat keempat, sehingga dirinya belum mencapai kriteria medali perak. Sementara di Olimpiade Tokyo 2020 dan Paris 2024, Nurul tampil dan meraih peringkat 5 dan 8, tanpa meraih medali sama sekali.
Kendati demikian, postingan Nurul tersebut menuai reaksi luas dari masyarakat Indonesia. Tak sedikit netizen yang memberi dukungan kepada Nurul Akmal. Menurut mereka, negara belum memberikan penghargaan yang setimpal bagi para atlet berprestasi di kancah internasional.
Dari beberapa kritik yang ada, diantaranya juga membandingkan kondisi Nurul dengan pegawai MBG yang akan diangkat sebagai PPPK oleh Presiden Prabowo Subianto. Mereka turut mempertanyakan nasib karier dan kesejahteraan dari para atlet nasional.
