Jakarta, GPriority.co.id – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) menggelar diskusi pakar dalam rangka memperingati Hari Kontrasepsi Sedunia 2025 di Universitas Negeri Jakarta, Senin (22/9).
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, mengatakan ada dua hal penting yang ingin dicapai melalui diskusi tersebut, yakni menyusun peta jalan kependudukan sekaligus menumbuhkan optimisme tentang pentingnya konsep keluarga berencana.
“Intinya ada dua hal. (Pertama), bagaimana para pakar yang kita undang, dari berbagai profesor, perguruan tinggi dapat memberikan rekomendasi keoada kita, langkah-langkah strategis yang pas berkenaan dengan bonus demografi,” kata Wihaji kepada wartawan usai acara.
“Kemudian menciptakan keluarga yang berkualitas, dan tentu yang terakhir adalah memastikan bagaimana PR yang nanti akan saya kerjakan betul-betul tidak hanya menjadi frame tetapi sudah kokoh,” tambahnya.
Ia menambahkan, tugas para pakar adalah merumuskan ide dan gagasan terkait keluarga berencana, sementara pemerintah berperan sebagai eksekutor untuk menjalankan gagasan tersebut.
Lebih lanjut, Wihaji menekankan bahwa gagasan tersebut harus mencakup berbagai metode kontrasepsi, dengan beragam pilihan sebagai cara untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk.
Menurutnya, pemerintah perlu berpihak kepada masyarakat yang kurang beruntung dan masih membutuhkan dukungan dalam akses kontrasepsi.
“Kalau yang mandiri, it’s okay. Tapi ada sebagian masyarakat yang belum beruntung, dan negara wajib hadir. Itu amanah Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang BKKBN, salah satunya menyiapkan alat kontrasepsi untuk masyarakat Indonesia yang membutuhkan. Saya kira itu intinya,” pungkasnya.
Pewarta : Fifi Abdurahman
