Hikmah Rajin Mengucap Istighfar dari Kisah Penjual Roti dan Imam Ahmad

Jakarta, GPriority.co.id– Bacaan istighfar atau Astaghfirullah al-‘Adzim merupakan kalimat toyyibah yang dibaca umat Islam sehari-hari. Kalimat ini biasa dilontarkan secara spontan setiap kali seseorang mengalami musibah atau melakukan keburukan.

Lafadz Astaghfirullah al-‘Adzim memiliki arti memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, yang mana jika seseorang mengucapkannya terus menerus ia berarti selalu mengingat Allah SWT dan selalu merendahkan diri dihadapan-Nya.

Lafadz istighfar memiliki keistimewaan yang luar biasa. Salah satu keistimewaan mengucap istighfar adalah hikmah dan keutamaan dikabulkannya semua do’a baik yang ia panjatkan kepada Allah SWT.

Rasulullah bersabda yang artinya: “Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan baginya pada setiap kesedihannya jalan keluar dan pada setiap kesempitan ada kelapangan dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Dari keutamaan membaca istighfar tersebut terdapat sebuah kisah keteladanan tentang Imam Ahmad yang bertemu dengan penjual roti. Kisah ini diceritakan dalam Manaqib Imam Ahmad.

Imam Ahmad bin Hanbal ra yang dikenal juga sebagai Imam Hanbali adalah murid Imam Syafi’i. Menjelang masa akhir hidupnya beliau bercerita, suatu waktu tanpa tahu alasannya ia ingin sekali pergi ke Irak. Padahal saat itu tidak ada janji atau hajat tertentu di sana.

Akhirnya Imam Ahmad memutuskan pergi sendiri menuju ke kota Bashrah, Irak. Saat tiba Bashrah Imam Ahmad langsung ikut shalat isya berjamaah di masjid. Di sana hatinya merasa tenang. Ia pun ingin istirahat di masjid.

Begitu sholat selesai dan jamaah bubar, Imam Ahmad yang hendak tidur di masjid didatangi oleh marbot yang menanyakan identitasnya dan apa yang ia hendak lakukan di masjid tersebut. Imam Ahmad hanya menjawab bahwa dirinya adalah seorang musafir yang ingin beristirahat.

Namun marbot tidak memperbolehkan beliau tidur di dalam masjid dan mengusirnya. Imam Ahmad pun keluar dan hendak tidur di teras masjid. Akan tetapi Imam Ahmad kembali dilarang untuk tidur di teras masjid. Beliau diusir oleh marbot, bahkan sampai didorong-dorong ke jalanan.

Marbot masjid tidak mengetahui jika dihadapannya saat itu adalah Imam Ahmad, dan Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan dirinya dengan nama. Padahal di Irak, Imam Ahmad sangt terkenal Semua orang pernah mendengar namanya.

Beliau adalah seorang ulama besar dan ahli hadist yang hafal sejuta hadist, sangat shalih, dan zuhud. Namun karena saat itu tidak ada foto atau sketsa wajah, orang-orang Irak hanya tahu nama Imam Ahmad tapi tidak mengenal sosok wajahnya.

Saat Imam Ahmad sampai di jalanan ada seorang penjual roti yang memanggil dari jauh kejauhan. Penjual roti itu memang tinggal dan menjual roti di rumah kecil yang ada di samping masjid tadi. Penjual roti sedang membuat adonan ketika melihat kejadian Imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot masjid.

Penjual roti itu pun menawarkan kepada Imam Ahmad untuk menginap di rumahanya “mari syaikh, anda boleh menginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil”. kata penjual roti.

Imam Ahmad menerima tawaran tersebut. Beliau masuk ke rumahnya, duduk dibelakang penjual roti yang sedang membuat roti (dengan tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir). Imam Ahmad memperhatikan penjual roti itu yang memiliki perilaku tersendiri. Ia akan berbicara hanya ketika diajak bicara oleh Imam Ahmad.

Namun jika tidak, penjual roti itu akan terus membuat adonan sambil melafalkan Astaghfirullah di setiap satu tindakan yang dia lakukan. Saat meletakkan garam melafalkan astaghfirullah, memecahkan telur astaghfirullah, mencampur gandum astaghfirullah. Begitu seterusnya selalu mengucap istighfar.

Imam Ahmad lalu bertanya “sudah berapa lama kamu lakukan ini?”. Orang itu menjawab “sudah lama sekali syaikh. Saya menjual roti sudah 30 tahun. Jadi semenjak itu saya lakukan”.

Imam Ahmad bertanya lagi “apa hasil dari perbuatanmu ini?”, orang itu menjawab “tidak ada hajat yang saya minta, kecuali pasti dikabulkan Allah. Semua yang saya minta kepada Allah langsung diterima”.

Penjual roti itu menambahkan “semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah kabulkan”. Imam Ahmad yang penasaran kemudian bertanya “apa itu?”.

Penjual roti itu menjawab “saya minta kepada Allah agar dipertemukan dengan Imam Ahmad”. Seketika itu juga Imam Ahmad bertakbir dan berkata “Allah telah mendatangkan saya jauh-jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan karena istighfarmu”

Penjual roti itu terkejut bukan main dan memuji nama Allah, karena ternyata yang di hadapannya adalah Imam Ahmad. Sosok yang selama ini ia minta doanya kepada Allah SWT agar dipertemukan.

Dari kisah Imam Ahmad dan penjual roti ini bisa dipetik hikmah agar senantiasa berdzikir dan mengucap istighfar agar senantiasa mengingat dosa-dosa yang telah diperbuat, serta agar dikabulkan segala hajat dan keinginan yang diminta. (Vn)