Jakarta, GPriority.co.id – Menciptakan suasana rumah yang damai dan penuh kenyamanan tidak hanya bergantung pada kondisi fisik hunian, tetapi juga pada cara setiap anggota keluarga berkomunikasi.
Salah satu sikap yang patut dihindari adalah kebiasaan berteriak di dalam rumah, baik kepada pasangan, anak, maupun anggota keluarga lainnya.
Pesan tersebut disampaikan Ustaz Fadlan Fahamsyah hafidzahullah dalam unggahan yang dibagikan akun Instagram @fiqihwanita_. Menurutnya, rumah yang diharapkan menjadi tempat paling nyaman bagi keluarga perlu dijauhkan dari perilaku yang mencerminkan sifat-sifat yang tidak baik.
“Untuk menciptakan suasana ‘Rumahku Surgaku’, maka kita usahakan sebisa mungkin tidak ada sifat ahli neraka di rumah kita. Dan salah satu sifat ahli neraka adalah mereka suka berteriak. Maka jangan sampai suara teriakan biasa terdengar di rumah-rumah kita,” ujar Ustaz Fadlan Fahamsyah hafidzahullah.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga lisan dan mengendalikan emosi merupakan bagian penting dalam membangun keluarga yang harmonis.
Teriakan yang terus-menerus terdengar di dalam rumah tidak hanya memicu pertengkaran, tetapi juga dapat meninggalkan dampak psikologis bagi pasangan maupun anak-anak.
Di samping itu, sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa lingkungan keluarga yang dipenuhi bentakan atau teriakan dapat memengaruhi kesehatan mental anak.
Menurut American Psychological Association (APA), paparan komunikasi verbal yang keras secara berulang dapat meningkatkan tingkat stres, kecemasan, hingga memengaruhi perkembangan emosi anak.
Sementara itu, Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa lingkungan rumah yang penuh tekanan dapat memicu respons stres berkepanjangan yang berdampak pada perkembangan otak dan kemampuan mengelola emosi.
Karena itu, para psikolog menyarankan agar setiap konflik dalam keluarga diselesaikan melalui komunikasi yang tenang, saling mendengarkan, serta menghindari penggunaan nada tinggi.
Mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri sebelum berbicara juga menjadi salah satu cara efektif untuk mencegah emosi meledak.
Mewujudkan konsep “Rumahku Surgaku” bukan berarti rumah selalu bebas dari masalah. Perbedaan pendapat tetap dapat terjadi dalam kehidupan keluarga.
Namun, cara menyikapi perbedaan itulah yang menentukan apakah rumah menjadi tempat yang menenangkan atau justru penuh tekanan.
Dengan membiasakan berbicara lembut, menghormati satu sama lain, serta menghindari kebiasaan berteriak, setiap anggota keluarga dapat berkontribusi menciptakan suasana rumah yang lebih hangat, damai, dan penuh kasih sayang.
Sejalan dengan nasihat Ustaz Fadlan Fahamsyah, rumah yang nyaman dimulai dari akhlak yang baik dan kemampuan menjaga lisan dalam kehidupan sehari-hari.
