Indeks Daya Saing Daerah Menjadi Cerminan Kesejahteraan Masyarakatnya

Kepala BRIN bersama pejabat lainnya dalam agenda rilis Indeks Daya Saing Daerah 2025 di Gedung BRIN, Jakarta, Selasa (24/2)/Foto : Dok. GPriority (Nindya Farhah Azzahrah) Kepala BRIN bersama pejabat lainnya dalam agenda rilis Indeks Daya Saing Daerah 2025 di Gedung BRIN, Jakarta, Selasa (24/2)/Foto : Dok. GPriority (Nindya Farhah Azzahrah)

Jakarta, GPriority.co.id – Kepala BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., resmi meluncurkan laporan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025.

Berlangsung di Jakarta pada Selasa (24/2), dalam agenda peluncuran IDSD 2025, BRIN mengundang para gubernur dari 38 provinsi, perwakilan bupati dari 40 kabupaten, serta walikota dari 20 kota.

Melalui peluncuran IDSD 2025, BRIN menegaskan komitmennya untuk menyediakan dasar ilmiah dan data yang kredibel dalam mendukung transformasi ekonomi nasional.

“Daya saing nasional yang kuat lahir dari daerah-daerah yang tangguh, inovatif, dan inklusif. IDSD adalah kompas bersama untuk menuju Indonesia yang lebih produktif dan berdaya saing global,” jelas Arif dalam sesi doorstop bersama wartawan.

BRIN, sebut Arif, memiliki peran penting untuk mendorong inovasi daerah agar semakin kuat. Bersama BRIDA dan BAPPERIDA yang tersebar di daerah, diharapkan dapat mencipakan ekosistem yang akan menjadi kekuatan Indonesia ke depannya.

Sementara itu, Menteri Bappenas, Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, M.S., menyebut bahwa Indeks Daya Saing Daerah menjadi cerminan kesejahteraan masyarakatnya.

“Saya kira inisiatif daripada Kepala BRIN untuk melakukan pemutakhiran Indeks Daya Saing Daerah ini penting sekali, karena menjadi cerminan bagi kesejahteraan masyarakat kita di daerh itu. Jadi tidak sekedar hanya indeks atau angka,” ungkap Rachmat.

Begitu pun menurut Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya, yang menekankan bahwa kunci menuju Indonesia Emas 2045 adalah riset, inovasi, dan kolaborasi pembangunan di daerah. Ia menekankan. hal ini tidak boleh didorong hanya karena kepentingan ekonomi atau bahkan politik semata, tetapi juga harus dihasilkan oleh riset.

“Kami menyambut baik baik inisiasi Pak Kepala BRIN agar daerah-daerah ini menjadikan inovasi, indeks daya saing, sebagai satu hal yang sangat serius untuk memberikan dampak bagi target-target kemajuan di daerah,” ujar Bima.

Bima menambahkan, inovasi sudah seharusnya terintegrasi ke dalam satu sistem mulai dari perencanaan, penganggaran, sampai evaluasi yang melibatkan unsur pemerintah, kampus, pengusaha, serta pihak-pihak lainnya.