Indonesia dan Peru Mulai Perundingan Pertama IP-CEPA

Jakarta, GPriority.co.id – Indonesia dan Peru memulai perundingan pertama Comprehensive Economic Partnership Agreement (IP-CEPA) di Lima, Peru, pada Senin (27/5). Perundingan ini dijadwalkan berlangsung dari 27 hingga 30 Mei 2024, dengan target penyelesaian pada November 2024. Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Pariwisata Peru, Elizabeth Galdo, dan Duta Besar RI untuk Republik Peru, Ricky Suhendar, secara resmi membuka perundingan tersebut.

Delegasi Indonesia dipimpin oleh Direktur Perundingan Bilateral, Johni Martha, sedangkan delegasi Peru dipimpin oleh Direktur Asia, Oseania, dan Afrika Kementerian Perdagangan Luar Negeri dan Pariwisata Peru, Gerardo Meza.

Menteri Galdo menyatakan harapannya bahwa IP-CEPA akan memberikan manfaat perdagangan bagi kedua negara. Johni juga mengungkapkan potensi perdagangan yang besar antara kedua negara, mengingat populasi Peru sebesar 34 juta jiwa dengan nilai PDB mencapai USD 239,3 miliar.

“Perjanjian IP-CEPA bukan hanya sekedar perdagangan, tetapi juga akan memperluas kehadiran Peru di Asia Tenggara dan Indonesia di Amerika Latin. IP-CEPA diharapkan akan memberikan manfaat bagi kedua negara,” ungkap Menteri Galdo dalam keterangan yang diterima, Kamis (30/5).

Senada dengan Menteri Galgo, Direktur Perundingan Bilateral, Johni Martha mengatakan potensi perdagangan kedua negara masih cukup besar. Hal ini mengingat total populasi di Peru sebesar 34 juta jiwa dengan nilai produk domestik bruto (PDB) mencapai USD 239,3 miliar. Selain itu, IP-CEPA dapat membuka peluang perdagangan kedua negara yang lebih luas lagi.

“Peru merupakan mitra dagang nontradisional Indonesia yang memiliki potensi cukup besar. Peru dapat menjadi penghubung produk-produk Indonesia di kawasan Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Oleh sebab itu, perundingan IP–CEPA berperan penting sebagai pembuka jalan dan peluang bagi perdagangan yang lebih luas antara pelaku bisnis Indonesia dan Peru,” imbuh Johni.

Dalam putaran pertama, perundingan difokuskan pada sektor barang, termasuk akses pasar, aturan asal barang, kepabeanan, dan fasilitasi perdagangan, serta kerangka hukum dan kelembagaan. Pada periode Januari—Maret 2024, total perdagangan Indonesia dan Peru mencapai USD 97,4 juta, dengan ekspor Indonesia ke Peru sebesar USD 63,9 juta dan impor dari Peru sebesar USD 33,5 juta, menciptakan surplus perdagangan sebesar USD 30,43 juta.

Pada tahun 2023, total perdagangan kedua negara mencapai USD 444,4 juta, dengan ekspor Indonesia ke Peru sebesar USD 367,4 juta dan impor dari Peru sebesar USD 77 juta, menghasilkan surplus perdagangan sebesar USD 290,4 juta.

Foto: Instagram @djppikemendag