Jadi Paham, Begini Pandangan Islam Tentang Pasutri ‘Childfree’

Penulis : Dimas | Editor : Haris | Foto : Istimewa

Jakarta,GPriority.co.id-Fenomena Chilfree atau bebas dari tidak memiliki keturunan sedang ramai di bicarakan karena

Namun dalam perspektif agama Islam, ternyata childfree telah banyak dibahas oleh ulama fikih kontemporer. Salah satunya adalah Syekh Syauqi Ibrahim Alam dari Dar Ifta Mesir, yang mengeluarkan fatwa nomor 4713, 5 Februari 2019. Syekh Syauqi Alam sebagaimana dikutip dari Bincangsyariah.com menyebutkan bahwa dalam Islam hukum childfree bukan termasuk perbuatan yang haram.

Alasannya :
Pertama, tidak ada penjelasan dari Al-Qur’an maupun Hadis Rasulullah untuk pasangan suami istri wajib mempunyai anak.

Kedua, tindakan childfree seyogianya diputuskan oleh kedua pihak (suami dan istri), tidak hanya satu pihak yang tidak akan mau memiliki anak. Lebih lanjut, kebolehan childfree tersebut juga didukung jika khawatir ketika memiliki anak akan membuat anak tidak terurus disebabkan oleh aktivitas dan pekerjaan calon ayah dan ibunya yang sibuk. Ia mengatakan:

لم يوجب الشرع على كل من تزوَّج أن ينجب أولادًا، لكنه حثَّ عمومَ المسلمين على النكاح والتكاثر، واكتفى بالترغيب في ذلك مع بيان أنها مسؤوليةٌ على كل من الوالدَيْن, وإذا غلب على ظن الزوجَيْنِ أنهما غيرُ قادرَيْنِ على هذه المسؤولية، أو قَرَّرا عدمَ الإنجاب لمصلحةٍ معينةٍ: كأن يكون في الإنجاب خطورة مثلًا على صحَّة الزوجة، أو خَافَا فسادَ الزمان على الذريَّة، فاتفقا على عدم الإنجاب، فلا حَرَجَ في ذلك عليهما؛ لأنه لم يرِدْ في كتاب الله تعالى نصٌّ يُحرِّم منعَ الإنجاب أو تقليلَه

Syariat tidak mewajibkan setiap orang yang menikah untuk memiliki anak, tetapi kebanyakan kaum muslimin pada umumnya untuk menikah dan memperbanyak anak. Dan keputusan itu tercukupi dengan dorongan untuk melakukannya dengan penjelasan sebagai tanggung jawab orang tua (suami-istri).

Jika pasangan berpikir kemungkinan besar mereka tidak mampu untuk tanggung jawab ini, atau mereka memutuskan untuk tidak memiliki anak untuk kepentingan tertentu, seperti jika melahirkan anak berbahaya bagi kesehatan istri, atau mereka takut kehancuran zaman—perubahan iklim sebab angka kelahiran, dan keduanya setuju untuk tidak memiliki anak, maka tidak ada yang salah/dosa dengan itu bagi mereka itu, Pasalnya tidak ada nash dalam Al-Qur’an yang melarang mencegah atau mengurangi kelahiran anak.

Ketiga, kebolehan childfree dianologi dengan kasus azal (pemutusan sanggama sebelum mencapai orgasme sehingga sperma suami keluar di luar lubang vagina istri). Azal ini terjadi di era Nabi Muhammad dan para sahabat:

واتفاقهما على منع الإنجاب في هذه الحالة يُقاس على العزل, وقد اتفق جمهور العلماء على أنَّ العزلَ مباحٌ في حالة اتفاق الزوجين على ذلك

Dan sepakat suami dan istri untuk mencegah kelahiran (chidfree) pada keadan ini diqiyaskan pada azal, dan terkait azal, para ulama sepakat bahwa sesungguhnya hukumnya adalah boleh, apabila ada kesepakatan suami dan istri.

Pada sisi lain, kendati tidak ada dalil dalam Al-Qur’an dan hadis yang mewajibkan memiliki anak, tetapi di dalam Al-Qur’an yang menyiratkan agar memiliki anak sebagai penerus keturunan. Jika tidak ada anak, maka tidak tertutup generasi yang akan datang tidak akan ada yang meneruskan. Hal ini sebagaimana termaktub dalam Al-Furqon [25]: 74 dan Qs. Al-Kahfi [18]: 46:

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

Dan, orang-orang yang berkata, “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
Oleh karena itu Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menerangkan akan pentingnya anak bagi kehidupan manusia. Anak menurut Al Ghazali memiliki peran sentral dalam kehidupan umat manusia. Imam Ghazali berkata:

وفى التواصل الى الولد قربة من اربعة وجوه هي الاصل فى الترغيب فيه عند امن من غوائل الشهوة حتى لم يحب احد ان يلقي الله عزبا الاول موافقة الله بالسعي فى تحصيل الولد الثانى طلب محبة الرسول صلى الله عليه وسلم في تكثير من به مباهته الثالث طلب التبرك بدعاء ولد الصالح بعده الرابع طلب الشفاعة بموت الولد الصغير اذا مات قبله

Pada usaha untuk memiliki keturunan merupakan ibadah dalam empat sisi. Yang menjadi alasan dasar dianjurkannya menikah ketika seseorang aman dari gangguan syahwat/hawa nafsu sehingga tidak ada seseorang yang senang bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak menikah. Pertama, menggapai ridha Allah dengan memiliki keturunan. Kedua, mencari cinta kasih Nabi Muhamad sebab memperbanyak umatnya yang dibanggakan. Ketiga, berharap mendapatkan berkah dari doa anak saleh setelah orang tuanya meninggal. Keempat, menuntut syafaat dari anak sebab meninggalnya anak kecil yang mendahuluinya.