Jakarta, GPriority.co.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan menutup sejumlah ruas di Jalan Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat, hingga 2027 terkait pengerjaan sistem tata air pompa. Kebijakan tersebut membuat rekayasa lalu lintas harus diterapkan di kawasan itu.
Menanggapi hal tersebut, Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI, William Aditya Sarana, mengingatkan Pemprov DKI agar mengatur rekayasa lalu lintas dan penutupan jalan secara serius agar tidak memperparah kemacetan.
Menurut William, Jalan Daan Mogot selama ini sudah dikenal sebagai kawasan dengan tingkat kepadatan lalu lintas tinggi, bahkan tanpa adanya proyek pembangunan maupun rekayasa jalan.
“Oleh karena itu, rekayasa lalu lintas dan penutupan-penutupan jalan ini harus direncanakan secara serius dan dijalankan dengan baik. Pasti akan terjadi kemacetan, maka itu harus dimitigasi agar kemacetannya tidak menjadi terlalu parah. Apalagi, kalau berjalan sesuai dengan rencananya, penutupan tersebut bisa dilakukan hingga tahun depan,” kata William di Jakarta, Kamis (21/5).
Sebagai langkah mitigasi, William menyarankan Pemprov DKI meningkatkan frekuensi layanan transportasi umum selama proyek berlangsung. Menurutnya, kawasan Jalan Daan Mogot telah dilayani berbagai moda transportasi seperti Transjakarta dan angkutan JakLingko yang dapat dioptimalkan untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
“Salah satunya, Pemprov DKI mungkin dapat meningkatkan frekuensi layanan transportasi umum. Di sepanjang Jalan Daan Mogot itu ada Transjakarta, kemudian ada angkot-angkot Jaklingko juga. Untuk sementara waktu pembangunannya berjalan, mungkin layanannya bisa ditambah,” sambungnya.
William menilai langkah tersebut penting agar masyarakat memiliki alternatif transportasi yang memadai selama rekayasa lalu lintas diterapkan. Ia menegaskan, pemerintah tidak cukup hanya meminta warga mengurangi penggunaan kendaraan pribadi tanpa menghadirkan solusi transportasi yang efektif.
Selain itu, William juga mengingatkan agar proyek pembangunan sistem tata air pompa tersebut dapat diselesaikan tepat waktu dan tidak molor dari target yang telah ditetapkan.
“Juga jangan sampai pengerjaannya berlarut-larut. Kalau memang hanya diperlukan sampai tahun depan, maka pelaksanaannya juga cukup sampai tahun depan saja. Rekayasa lalu lintas dan penutupan jalanan ini tidak dapat dilakukan terlalu lama,” pungkasnya.
