Tanjung Selor, Gpriority.co.id – Ditengah ambisi besar menjadikan Kalimantan Utara (Kaltara) sebagai beranda depan Indonesia, Gubernur Zainal A. Paliwang menempatkan proyek perkeretaapian sebagai fondasi penting transformasi ekonomi daerah. Baginya, rel kereta bukan sekadar jalur transportasi, melainkan tulang punggung konektivitas industri hijau dan masa depan logistik nasional.
Dalam paparannya, Zainal menegaskan bahwa Kaltara memiliki posisi geostrategis di jalur ALKI II yang menjadikannya gerbang perdagangan internasional. Kehadiran Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIPI) di Mangkupadi sebagai Proyek Strategis Nasional menjadi momentum penting untuk menghadirkan sistem transportasi modern yang efisien dan berkelanjutan.
“Kereta api menjadi solusi paling efisien untuk mobilisasi hasil industri dan masyarakat Kalimantan Utara,” kata Zainal dalam keterangan resminya.
Selain mampu mengangkut komoditas dalam jumlah besar, moda transportasi ini dinilai dapat menekan biaya logistik, membuka keterisolasian wilayah, hingga mengurangi kerusakan jalan akibat kendaraan berat.
Zainal juga memperlihatkan keseriusan pemerintah daerah lewat kesiapan dokumen proyek yang telah disusun sejak lama. Mulai dari Rencana Induk Perkeretaapian pada 2015, studi kelayakan trase Tanjung Selor–Mangkupadi pada 2016, hingga Detail Engineering Design jalur Tanjung Selor–Binai pada 2017 telah tersedia dan siap memasuki tahap due diligence investor.
Koridor utama proyek ini akan menghubungkan Tanjung Selor sebagai pusat pemerintahan dengan Mangkupadi yang diproyeksikan menjadi pusat hilirisasi industri dan pelabuhan internasional. Jalur tersebut juga terhubung ke kawasan Binai untuk memperkuat distribusi komoditas dan rantai pasok regional.
Dari sisi investasi, proyek ini menawarkan angka yang cukup menjanjikan. Total kebutuhan belanja modal mencapai sekitar Rp6,98 triliun, mencakup pembangunan jalur, stasiun, sistem persinyalan hingga pengadaan rolling stock seperti lokomotif dan gerbong barang.
Tak hanya itu, Pemprov Kaltara juga telah menghitung kebutuhan operasional tahunan demi menjaga keberlangsungan sistem transportasi tersebut. Pemeliharaan preventif menjadi fokus agar layanan tetap andal sekaligus memperpanjang usia aset infrastruktur.
Menariknya, hasil kajian ekonomi menunjukkan proyek ini layak secara finansial. Nilai Economic Net Present Value tercatat positif sebesar Rp1,57 triliun dengan Benefit Cost Ratio 1,24. Artinya, manfaat ekonomi yang dihasilkan lebih besar dibanding biaya investasi yang dikeluarkan.
Bagi Zainal, proyek ini bukan hanya soal membangun jalur kereta, melainkan membuka era baru Kalimantan Utara sebagai pusat industri hijau Indonesia. Dengan dukungan status Proyek Strategis Nasional dan tawaran skema investasi yang fleksibel, Kaltara kini mencoba memposisikan diri sebagai magnet baru investasi infrastruktur di kawasan timur Indonesia.
Laporan : Dimas A. Putra
Foto : G Priority
