Kasus Penipuan Asuransi di Gunung Everest: Pendaki Rugi Rp300 Miliar!

Ilustrasi pendaki di Gunung Everest/Foto : Dok. AFP Ilustrasi pendaki di Gunung Everest/Foto : Dok. AFP

Nepal, GPriority.co.id – Sebuah skandal besar mengguncang industri pariwisata Nepal. Belum lama ini terungkap dugaan praktik kriminal di kawasan Gunung Everest.

Dilansir dari laporan People pada Jumat (3/4), aparat penegak hukum setempat menetapkan 32 orang sebagai tersangka dalam kasus penipuan asuransi bernilai hampir USD20 juta atau sekitar Rp300 miliar.

Kasus ini melibatkan banyak pihak mulai dari pemandu pendakian, operator helikopter, hingga pihak rumah sakit yang diduga bekerja sama dalam skema ilegal tersebut.

Menurut hasil investigasi, para pemandu diduga sengaja membuat wisatawan sakit agar dapat memicu evakuasi darurat dengan menggunakan helikopter.

Dalam beberapa kasus, mereka disebut mencampurkan zat seperti baking soda ke dalam makanan turis untuk menimbulkan gejala yang menyerupai penyakit ketinggian atau gangguan pencernaan.

Setelah wisatawan menunjukkan gejala, mereka kemudian diarahkan untuk menjalani evakuasi medis yang sebenarnya tidak diperlukan. Evakuasi ini menjadi pintu masuk utama dalam skema penipuan, karena biaya penyelamatan di Everest yang sangat mahal biasanya ditanggung oleh perusahaan asuransi perjalanan internasional.

Lebih lanjut, para pelaku diduga memalsukan dokumen medis dan laporan penerbangan untuk mengklaim biaya yang jauh lebih tinggi dari kondisi sebenarnya. Bahkan, beberapa laporan menyebutkan adanya “evakuasi palsu” atau kejadian yang direkayasa sepenuhnya demi mendapatkan klaim asuransi.

Menurut penyelidikan, praktik nakal ini telah berlangsung selama beberapa tahun, terutama antara 2022 hingga 2025 dan melibatkan ribuan wisatawan asing. Total korban diperkirakan mencapai hampir 5.000 pendaki internasional yang tanpa sadar menjadi bagian dari skema tersebut.

Tidak hanya pemandu, jaringan ini juga melibatkan berbagai pihak lain seperti perusahaan penyelamat gunung, operator helikopter, serta rumah sakit yang menerima pasien. Keuntungan dari penipuan ini kemudian dibagi di antara pihak-pihak yang terlibat.

Kronologi Kasus

Kasus ini pertama kali mencuat dari investigasi yang sebenarnya telah dimulai sejak beberapa tahun lalu, namun diduga kurangnya penegakan hukum membuat praktik tersebut terus berlanjut. Otoritas Nepal kini berupaya menindak tegas para pelaku serta memperbaiki sistem pengawasan di sektor pariwisata ekstrem.

Dampak dari skandal ini sangat besar, tidak hanya merugikan perusahaan asuransi tetapi juga mencoreng reputasi Nepal sebagai destinasi wisata petualangan kelas dunia. Gunung Everest yang selama ini dikenal sebagai impian para pendaki kini justru dikaitkan dengan praktik kecurangan dan eksploitasi wisatawan.

Para ahli menilai bahwa lemahnya pengawasan serta tingginya biaya evakuasi menjadi celah utama yang dimanfaatkan dalam kasus ini. Sistem yang bergantung pada klaim asuransi tanpa verifikasi ketat membuat praktik penipuan mudah dilakukan, terutama di wilayah terpencil seperti Everest.

Pemerintah Nepal kini tengah mempertimbangkan regulasi baru yang lebih ketat, termasuk kewajiban pelaporan evakuasi secara transparan serta audit terhadap perusahaan penyedia jasa pendakian dan penyelamatan. Langkah ini diharapkan dapat memulihkan kepercayaan wisatawan global.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa industri pariwisata, terutama yang melibatkan risiko tinggi seperti pendakian gunung, membutuhkan pengawasan ketat dan standar etika yang tinggi. Tanpa itu, keselamatan wisatawan bisa terancam oleh praktik-praktik tidak bertanggung jawab.