Amerika Serikat, GPriority.co.id – Pengusaha ritel AS (Amerika Serikat) harus menelan pil pahit akibat kekurangan stok pasokan serta barang untuk dijual pada akhir tahun ini.
Dilansir dari laporan Reuters pada Senin (1/12), belakangan ritel AS sedang mengalami gangguan rantai pasok yang menyebabkan persediaan dagangan menjadi langka. Kabar menyebut, pemicu utamanya ialah kenaikan harga barang akibat kebijakan tarif Trump.
Akibatnya, para pengusaha ritel AS pun harus mengeluarkan biaya operasional lebih tinggi untuk membayar bea masuk produk impor. Selain itu, kenaikan biaya bulanan juga meningkat signifikan. Beberapa pengusaha ritel bahkan terpaksa memecat karyawannya dan mengurangi diskon guna menghemat uang.
Padahal, pada libur Natal dan Tahun Baru pengusaha ritel AS berpotensi mendapatkan sekitar sepertiga laba tahunan. Sebagai informasi, pengenaan tarif masuk diberlakukan Presiden Donald Trump guna menurunkan impor serta mengurangi defisit perdagangan. Langkah tersebut mampu menurunkan impor AS hingga 5,1 persen.
Sayangnya, kebijakan tarif Trump juga membawa dampak negatif bagi masyarakat AS. Bukan hanya pengusaha ritel yang terdampak, konsumen pun harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk dapat berbelanja. Selain itu, pilihan produk pun lebih sedikit daripada biasanya.
Melihat permasalahan tersebut, Trump akhirnya memangkas tarif lebih dari 200 jenis produk pangan di AS pada awal bulan November lalu. Kebijakan ini diambilnya saat kepanikan masyarakat AS sedang meningkat akibat lonjakan harga bahan makanan.
Beberapa harga bahan makanan yang naik antara lain; daging sapi (13 persen), pisang (7 persen), hingga tomat (1 persen). Akibatnya, biaya bahan makanan untuk konsumsi rumah tangga secara keseluruhan di AS pun melonjak 2,7 persen.
Melalui kebijakan pelonggaran tarif untuk produk pangan, Trump berharap harga sejumlah komoditas dapat turun.
Sebelumnya, kebijakan tarif tersebut resmi diumumkan Donald Trump pada Rabu (2/4) lalu. Kebijakan ini muncul usai AS kehilangan banyak uang karena defisit perdagangan hingga USD 900 miliar pada 2024 lalu.
Lewat kebijakan tersebut, Trump ingin melindungi para pekerja di AS, membuat pabrik lokal bangkit, hingga mengurangi ketergantungan dengan negara lain, salah satunya China. Kebijakan ini menjadi bagian dari janji kampanyenya. Trump juga meyakini jika AS akan lebih untung dan industri dapat kembali hidup.
