Jakarta, GPriority.co.id – Dunia kini tengah digemparkan oleh kebijakan tarif yang diusung Presiden AS (Amerika Serikat) Donald Trump, belum lama ini. Kebijakan tarif merupakan pajak tambahan untuk barang impor.
Kebijakan tarif resmi diumumkan Donald Trump pada Rabu (2/4) lalu. Dalam bahasa sederhana, Trump memiliki gagasan jika negara lain mengenakan pajak tinggi ke barang AS, maka ia akan membalasnya dengan pajak yang juga tinggi ke barang-barang impor mereka.
Adapun kebijakan tarif Donald Trump didasarkan pada AS yang disebut kehilangan banyak uang karena defisit perdagangan hingga USD 900 miliar pada 2024 lalu.
Melalui kebijakan tarif ini, Trump ingin melindungi para pekerja di AS, membuat pabrik lokal bangkit, hingga mengurangi ketergantungan dengan negara lain, salah satunya China. Hal ini merupakan bagian dari janji kampanyenya.
Selain itu, dengan kebijakan ini, Trump yakin jika AS akan lebih untung dan industri lokal dapat hidup kembali. Kendati demikian, banyak juga masyarakat AS yang mengkhawatirkan jika perdagangan global bisa terkendala.
Mulai tanggal 5 April lalu, AS memberi tarif dasar hingga 10% ke semua negara. Kemudian pada 9 April, tarif khusus diberlakukan. Diantaranya seperti China yang terkena 34%, Indonesia 32%, hingga Vietnam 46%.
Akibatnya, barang-barang seperti elektronik, sepatu, hingga udang, menjadi mahal jika masuk AS. Merespon hal ini, banyak negara kemudian mencoba melawan. Salah satunya China yang langsung balas dendam dengan memberlakukan tarif 34% khusus barang impor dari AS.
Sementara Kanada dan Meksiko membalas dengan tarif 25% ke barang AS seperti mobil dan baja. Begitupun dengan Uni Eropa yang dilaporkan tengah menyiapkan rencana balasan untuk AS, dengan menargetkan bourbon dan jeans AS.
Untuk Indonesia, barang tekstil dan alas kaki juga menjadi sulit bersaing akibat kebijakan ini. Pemerintah Indonesia telah berdiskusi dengan negara-negara ASEAN yang ikut terdampak, untuk melawan kebijakan tarif tersebut.
Dampak Kebijakan Tarif Trump Untuk Dunia
Dengan disahkannya kebijakan tarif ini, pasar saham menurun, investor pun takut resesi. Harga minyak dilaporkan jeblok sama seperti harga gas alam. Sementara harga emas naik ke USD 3.000.
Sementara itu, barang di toko menjadi mahal, seperti iPhone hingga kopi. Sayangnya, Trump menegaskan jika negara lain menaikkan tarif lagi bagi AS, maka ia akan semakin menaikkan tarif yang sebelumnya sudah ditetapkan.
Editor: Novita Intan
Foto : Dok. Getty Images
