Jakarta, GPriority.co.id – Kementerian Perdagangan (Kemendag) membeberkan sektor pertanian tumbuh 3,25 persen pada triwulan II 2024 dan menyumbang 13,78 persen atau menjadi kontributor terbesar kedua terhadap perekonomian nasional.
“Pada Triwulan II-2024, sektor ini tumbuh 3,25 persen secara tahunan dan menyumbang 13,78 persen atau menjadi kontributor terbesar kedua terhadap perekonomian nasional,” ujar Kepala Badan Kebijakan Perdagangan, Fajarini Puntodewi dalam Dialog Kebijakan Gambir Trade Talk (GTT) ke-16 di Jakarta pada Kamis (17/10).
Kendati demikian, kata Fajarini, nilai pertumbuhan ini masih di bawah target pertumbuhan sektor pertanian pada tahun 2024, yaitu sebesar 3,4–3,8 persen.
Untuk itu, Fajarini menyarankan pemerintah melakukan peningkatan ekspor pertanian. Menurutnya, hal ini bisa dilakukan lewat strategi hilirisasi dalam bentuk kolaborasi dari pemerintah untuk memberikan kebijakan, para stakeholders, serta dukungan dari para akademisi demi mencapai target tersebut.
“Untuk memberikan masukan juga, lakukan langkah apa yang secara tepat bisa dilaksanakan sehingga hilirisasi ke depan ini bisa berjalan dengan baik,” katanya.
Selanjutnya, dia juga menyebut kementerian lain untuk turut andil dalam kerja sama hilirisasi, terutama oleh para sektor pembina dan Kementerian pembina.
Dominasi Ekspor Produk Primer
Sebagai informasi, berdasarkan pengelompokan primer dan manufaktur dari Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perdagangan dan Pembangunan atau UNCTAD, pangsa ekspor Indonesia masih cukup didominasi oleh ekspor produk primer dan mengalami peningkatan pada 2023 sebesar 52,9 persen.
Beberapa produk primer utama yang paling banyak diekspor di antaranya merupakan produk pertanian dan hasil olahannya, antara lain minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO), makanan dan minuman olahan, pulp, bungkil, dan karet.
Sementara itu, untuk produk pertanian luar perkebunan sendiri yakni kopi robusta, sarang walet, cengkeh, manggis, rumput laut, pinang, kelapa, kepiting, dan lada.
Untuk diketahui, Dialog Kebijakan Gambir Trade Talk (GTT) ke-16 kali ini bekerja sama dengan International Trade Analysis and Policy Studies Fakultas Ekonomi dan Manajemen (ITAPS FEM) IPB University menyelenggarakan dengan tema “Peluang dan Tantangan Peningkatan Kompleksitas Ekspor Pertanian Indonesia”.
Diskusi ini menghadirkan narasumber, yaitu Direktur Perundingan Organisasi Perdagangan Dunia Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Wijayanto; Direktur ITAPS FEM IPB University, Sahara; serta Anggota Komite Perkebunan Bidang Pertanian dan Kehutanan APINDO, Arief Susanto. Sesi diskusi ini dimoderatori oleh Eisha Rachbini (ITAPS FEB IPB University).
Foto: GPriority/Dimas A Putra
