Jawa Barat, GPriority.co.id – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengeluarkan peraturan yang melarang study tour ke luar provinsi bagi sekolah.
Lewat kebijakan tersebut, Dedi ingin melindungi keselamatan siswa, serta mengurangi beban finansial orang tua murid. Sayangnya kebijakan tersebut memicu polemik karena dinilai berdampak besar pada sektor pariwisata, dan berpotensi mengurangi pendapatan para pengusaha di sektor tersebut.
Sebagai bentuk penolakan, Senin (21/7) kemarin, ribuan pekerja pariwisata, mulai dari sopir bus, agen travel, hingga pelaku UMKM, menggelar demonstrasi di Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat.
Mereka menuntut dicabutnya larangan study tour bagi sekolah, karena menilai kebijakan tersebut mematikan mata pencaharian mereka.
Akibat kebijakan larangan study tour ini, pemesanan bus pariwisata turun hingga 60 persen, hotel kehilangan 30 persen okupansinya, serta UMKM seperti pedagang souvenir dan jasa boga juga ikut merugi. Sementara bagi sopir dan agen travel, mereka juga sampai kehilangan pekerjaan dan terpaksa berutang.
Pihak-pihak yang terdampak mengakui jika kebijakan ini lebih parah dibandingkan dampak dari pandemi COVID-19. Menurut laporan, bukan hanya sektor wisata di Jawa Barat yang ikut terdampak, namun destinasi yang biasanya menjadi tujuan untuk study tour seperti Yogyakarta dan Bantul, juga ikut terdampak.
Para pelaku wisata mengklaim jika kebijakan Dedi merugikan perekonomian daerah tujuan study tour, yang kebanyakan bergantung pada kunjungan pelajar.
Demo yang dilakukan para pelaku wisata menjadi langkah terakhir, setelah sebelumnya terjadi dialog dengan Pemprov Jawa Barat, namun sayangnya tak ada tindak lanjut lagi.
Sebagai respon dari demo tersebut, Dedi Mulyadi menegaskan jika dirinya tak akan merubah kebijakan, dan akan tetap mempertahankannya. Ia menambahkan, larangan ini menjadi langkahnya untuk mengurangi biaya yang dianggapnya tidak esensial bagi pendidikan anak.
“Komitmen saya tetap untuk menjaga ketenangan para orangtua, supaya tidak terbebani biaya yang bukan bagian dari pendidikan,” tegas Dedi.
.
