Lawan Berita Hoax Dengan Peningkatan Akademisi dan Teknologi Pendeteksi Plagiarisme

Jakarta,Gpriority-Internet pada saat ini sudah menjadi kebutuhan hidup, dimanapun mereka berada pasti akan selalu membuka internet untuk mengetahui sejumlah informasi. Sayangnya, kemudahan mengakses internet disalah artikan oleh sejumlah pihak yang tidak bertanggung jawab dengan mengirimkan informasi bohong (hoax).

Pada pertengahan Juni 2020, Kepolisian Republik Indonesia telah mengidentifikasi lebih dari 130.000 berita palsu (hoaks) terkait pandemi selama tiga bulan terakhir, meskipun terdapat banyak statistik, informasi medis, dan studi ilmiah. Hoaks semacam itu dapat menimbulkan ketidakpercayaan pada pemerintah.

“Seiring dengan pesatnya digitalisasi di Indonesia, sangatlah penting bagi bangsa ini untuk meningkatkan literasi digital dan membatasi sebaran informasi yang salah. Selama pandemi COVID-19, penyebaran informasi palsu telah menyebabkan kebingungan pada masyarakat. Aplikasi komunikasi seperti WhatsApp dan Telegram dibanjiri dengan berita palsu dan konspirasi tentang penyebaran virus.” ujar Senior Manager Customer Growth kawasan Asia Tenggara dari Turnitin, Yovita Marlina saat diwawancarai secara virtual pada Kamis (14/1/2021).

Lebih lanjut dikatakan Yovita, berita palsu / hoaks yang menyebar dengan sangat pesat di media sosial seringkali disertai dengan ‘bukti’, meskipun itu dibuat-buat.

“ Sifat sensasionalnya menimbulkan respons emosional, yang mendorong orang untuk tidak memvalidasi informasi tersebut. Munculnya internet dan media sosial telah mengubah kemudahan interaksi dan mengubah orang dari sekedar konsumen konten menjadi produsen dan juga sebagai distributor,” tambah Yovita.

Yovita mengatakan bahwa meski masyarakat paham bahayanya menyebarkan berita palsu, banyak orang melakukannya secara tidak sengaja. GeoPoll dan Universitas Notre Dame melakukan penelitian tentang penyebaran informasi yang salah di Indonesia, dan menemukan bahwa di antara pengguna media sosial, sekitar 70 persen mengaku berbagi berita tanpa membaca artikelnya secara lengkap terlebih dahulu. Hanya 3 hingga 4 persen yang mengatakan bahwa mereka sengaja membagikan berita yang mereka tahu palsu.

“Sekarang di Indonesia ada satuan tugas untuk menangani berita palsu. Pengguna platform komunikasi Telegram dan LINE dapat mengirim teks ke chatbot anti-hoax untuk memverifikasi keaslian berita,” jelas Yovita.

Selain chatbot anti hoax, teknologi untuk mendeteksi plagiarisme seperti Turnitin juga dibutuhkan.

” Untuk Turnitin sebenarnya lebih difokuskan kepada tenaga pendidik seperti dosen maupun guru. Karena dosen maupun guru memiliki tingkatan akademisi yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa dan siswa, sehingga mereka tidak serta merta termakan berita hoax yang disebarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” kata Yovita.

Untuk mendukung guru dan dosen mengedukasi siswa dan mahasiswanya, Turnitin telah merilis paket Source Credibility online yang berisi rencana pelajaran, video, kegiatan, dan panduan penilaian yang mendorong siswa untuk menemukan sumber yang lebih kredibel. Selain itu, alat seperti NewsGuard dapat membantu siswa memeriksa informasi dengan pandangan yang lebih kritis serta mengidentifikasi sumber terlegitimasi. (Hs.Foto.dok.Turnitin)

Related posts