Jakarta, GPriority.co.id – Hubungan persahabatan antara Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA) terus diperkuat melalui berbagai kerja sama strategis, termasuk pembangunan Masjid Raya Sheikh Zayed di Surakarta, Jawa Tengah. Masjid megah tersebut menjadi simbol kedekatan kedua negara sekaligus hadiah dari Presiden UEA kepada Indonesia.
Hubungan erat kedua negara juga tercermin dari kedekatan Presiden RI ke-7 Joko Widodo dengan Presiden UEA Mohamed bin Zayed Al Nahyan serta hubungan historis dengan tokoh pendiri UEA Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan.
Persahabatan kedua negara bahkan diabadikan melalui sejumlah infrastruktur penting. Di Indonesia terdapat jalan tol layang yang dinamai Jalan Tol Layang Sheikh Mohamed Bin Zayed (MBZ) di Jakarta, sementara di Abu Dhabi terdapat Jalan Presiden Joko Widodo.
Sebagai simbol terbaru kerja sama kedua negara, berdiri Masjid Raya Sheikh Zayed Solo yang merupakan replika dari Sheikh Zayed Grand Mosque. Desain masjid di Solo dibuat menyerupai masjid ikonik di Abu Dhabi tersebut.
Masjid Raya Sheikh Zayed Solo diresmikan oleh Presiden Joko Widodo bersama Presiden Mohamed bin Zayed Al Nahyan pada 14 November 2022. Peresmian tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh kedua pemimpin negara.
Sebelum prosesi peresmian, kedua pemimpin negara melaksanakan salat sunah Tahiyatul Masjid. Setelah itu, Presiden Jokowi dan Presiden MBZ juga melakukan penanaman pohon Sala di area masjid sebagai simbol persahabatan antara kedua negara.
Sebagai tindak lanjut kerja sama, pada 12 Januari 2023 dilakukan penandatanganan kesepakatan pengelolaan bersama Masjid Raya Sheikh Zayed Solo. Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin dan Rektor Universitas Muhammad Bin Zayed, Khaled Salem Al-Yabhouni Al-Dhahrei.
Selain pengelolaan masjid, kedua pihak juga menandatangani nota kesepahaman terkait pembangunan Solo Culture Center atau Islamic Center yang akan terintegrasi dengan masjid tersebut. Proyek tersebut akan dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah UEA.
Turut mendampingi Presiden Jokowi dalam peresmian tersebut sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju, antara lain Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, serta Menteri BUMN Erick Thohir.
Selain itu hadir pula sejumlah pejabat daerah seperti Gubernur Jawa Tengah saat itu Ganjar Pranowo, Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, serta Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka.
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas berharap kehadiran masjid tersebut dapat menjadi pusat pengembangan keislaman di Indonesia bahkan dunia.
“Ini Masjid yang sangat indah. Saya berharap masjid ini mampu memberikan kontribusi bagi umat dalam pengembangan keislaman yang rahmatan lil alamin,” terang Menag di Surakarta usai mendampingi Presiden Joko Widodo pada seremonial peresmian.
Selain sebagai pusat kegiatan keagamaan, Menag juga berharap masjid tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
“Selain itu, semoga (masjid ini) mampu membantu meningkatkan kualitas kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia khususnya Solo, dengan kegiatan-kegiatan produktif ke depannya,” sambungnya.
Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin menambahkan bahwa Masjid Raya Sheikh Zayed Solo diharapkan menjadi contoh tata kelola masjid profesional bagi masjid-masjid lain di Indonesia.
“Hadirnya Masjid Raya Syeikh Zayed Solo diharapkan menjadi prototipe masjid yang dikelola secara profesional, baik idarah (manajemen), imarah (memakmurkan), dan riayah-nya (pemeliharaan),” ujarnya.
Menurutnya, masjid memiliki peran penting sebagai ruang edukasi dan penyebaran informasi bagi masyarakat. Dalam sejarah Islam, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, konsultasi, hingga aktivitas sosial dan ekonomi.
Selain itu, Masjid Sheikh Zayed Solo juga menjadi daya tarik wisata religi sekaligus simbol kerja sama internasional dalam memperkuat peradaban Islam yang inklusif.
“Selain itu, Masjid Sheikh Zayed Solo juga menjadi kebanggaan dan daya tarik wisata religi, sekaligus menjadi penanda adanya persahabatan dan kerja sama antarbangsa dalam penguatan peradaban Islam yang ramah untuk semua,” katanya.
Kamaruddin juga berharap masjid tersebut dapat menjadi pionir dalam penguatan moderasi beragama di Indonesia.
“Masjid menjadi salah satu fokus penting penguatan moderasi karena di masjid-lah umat beragama secara rutin berkumpul. Saya sering mengatakan masjid sebagai Mega Pesantren, tempat di mana jutaan umat Islam beribadah dan menambah ilmu tiap harinya, sehingga masjid harus menjadi sarana edukasi keagamaan yang moderat,” pungkasnya.
