MBG Dipangkas Jadi 5 Hari, Potensi Hemat Hingga Rp40 Triliun Per Hari

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa Foto : Dok. Humas Kemenkeu RI Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa Foto : Dok. Humas Kemenkeu RI

Jakarta, GPriority.co.id – Pemerintah melakukan langkah efisiensi besar terhadap program MBG (Makan Bergizi Gratis) dengan memangkas hari operasional dari enam hari menjadi lima hari dalam sepekan.

Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari strategi pengelolaan anggaran negara yang lebih optimal, dengan potensi penghembatan mencapai Rp40 triliun per hari.

Dilansir dari laporan ANTARA pada Jumat (27/3), Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut jika program MBG berpotensi dikenakan efisiensi sebagai bagian dari penyesuaian anggaran. Ia menyampaikan, usulan tersebut berasal dari Kepala BGN, Dadan Hindayana.

Menurutnya, program MBG saat ini masih bisa dijalankan di tengah dinamika perekonomian yang terjadi saat ini.

“Bukan saya yang memotong. Dia (Kepala BGN) bilang masih bisa ada efisiensi dengan keadaan seperti sekarang. Jadi jangan dibilang MBG tutup mata, tidak. Mereka juga melakukan efisiensi,” jelas Purbaya.

Namun, Purbaya tidak merinci lebih lanjut efisiensi yang dilakukan pada program MBG ke depannya. Ia menyebut, hal ini akan disampaikan langsung oleh pihak BGN.

Sebelum diterapkan, BGN akan mengajukan terlebih dahulu usulan ini kepada Presiden Prabowo Subianto untuk mendapat keputusan final.

Dari sisi ekonomi makro, penghematan Rp40 triliun per hari menjadi angka yang sangat signifikan. Jika diakumulasikan dalam jangka panjang, efisiensi ini dapat memberikan dampak positif terhadap defisit anggaran dan stabilitas keuangan negara. Para analis ekonomi juga menilai kebijakan ini sebagai langkah realistis di tengah tekanan global dan kebutuhan peningkatan efisiensi belanja negara.

Namun demikian, kebijakan pengurangan hari kerja MBG ini tidak luput dari perhatian publik. Beberapa pihak menyoroti potensi dampaknya terhadap tenaga kerja yang terlibat langsung dalam program tersebut. Pengurangan hari operasional berpotensi menurunkan pendapatan harian bagi pekerja lepas maupun sektor informal yang bergantung pada aktivitas program.

Selain tenaga kerja, pelaku usaha dalam rantai pasok program MBG juga harus beradaptasi dengan perubahan ini. Penurunan frekuensi operasional dapat memengaruhi volume permintaan barang dan jasa, sehingga diperlukan strategi baru untuk menjaga stabilitas bisnis.