Melihat Warisan Sejarah Desa Adat dan Budaya Hilisimaetano

Jakarta, GPriority.co.id – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) telah mengumumkan Desa Wisata Hilisimaetano masuk dalam 50 besar ADWI 2022 sebagai salah satu dari tiga perwakilan desa wisata di Sumatera Utara yang masuk dalam daftar.

Desa Hilisimaetano adalah salah satu desa adat tertua di Kabupaten Nias Selatan yang masih menjaga peninggalan sejarah di desa, seperti Batu Megalitik yang ada di jalan masuk desa, susunan rumah adat yang masih terpelihara, Lompat Batu dan atraksi budaya Famadaya Harimao, Maluaya (Tari Perang), Hoho, Fogaele, dan Fo’ere.

Hilisimaetano terletak di Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan. Ia juga merupakan Pusat Pemerintahan Kecamatan Maniamölö. Seiring dengan pelaksanaan Otonomi Daerah, Hilisimaetanö kemudian dimekarkan menjadi:  Desa Induk Hilisimaetanö (Boto mbanua), Idala Jaya, Samadaya, Soto’ö, Hiliaurifa, Ndraso, Faomasi, Eho, Pekan, dan Bonia.

Sebagai salah satu desa adat tertua di Kepulauan Nias, Desa Hilisimaetano masih teguh menjaga nilai adat, bukan hanya menjaga bangunan sejarah dan adat leluhur warisan nenek moyang. Di desa ini sistem pemerintahan desa adat juga masih dijalankan, dimana para Si’ulu (Bangsawan) masih berfungsi sebagai pemangku kepemimpinan adat. Si’ila (Cendekiawan) menjadi tetua adat sebagai pemberi pertimbangan kepada bangsawan dan Sato/Fa’abanuasa (masyarakat umum) masih bekerjasama untuk menjaga Lakhömi mbanua (marwah desa). 

Bukti dari lestarinya warisan adat dan budaya Hilisimaetano diantaranya melalui peninggalan batu dari masa Megalitik yang keadaanya masih baik dapat dilihat di Desa Bawomataluwo dan Desa Hilisimaetano.

Di desa Hilisimaetano masih terdapat banyak rumah adat tradisional bernama Osali, yang dahulu dipakai khusus untuk rumah berhala-berhala orang Nias. Karena saat ini sebagian besar masyarakat Nias telah memeluk agama Kristen, maka nama itu dipakai untuk menyebut gereja.

Selain itu, di desa ini juga terdapat berbagai atraksi pertunjukan seperti tari perang, maena, mogaele, dan lompat batu juga masih lestari di desa ini.

Desa ini juga memiliki tradisi kerajinan tangan yang masih dilakukan sampai sekarang. Seperti Anyaman, Pahatan, Ukiran dan Pandai Besi (Manöfa). 

Dalam aspek religi, Desa Hilisimaetanö merupakan tempat awal mula penyebaran injil di Nias Selatan. Peninggalan bangunan para misionaris yang dulu tinggal di desa ini juga masih ada di desa.

Wisatawan yang ingin tinggal sementara dan merasakan kehidupan sehari – hari masyarakat Desa Hilisimaetano juga bisa menginap di homestay – homestay yang telah tersedia. Untuk fasilitas yang disediakan desa selama kunjungan di Hilisimaetano terbilang cukup lengkap. Terdapat area parkir, jungle tracking, kamar mandi, tempat makan, outbond, dan masih banyak lagi.

Wisatawan yang ingin membawa oleh – oleh khas Nias Selatan ke rumah bisa membeli beragam souvenir buatan tangan, seperti baju dan aksesoris tradisional, serta ukiran dan kerajinan tradisional, serta mencoba kuliner tradisional seperti jajanan pasar dan minum kopi Hilisimaetano yang punya cita rasa kopi tradisional.

Jika wisatawan ingin menikmati beragam aktivitas wisata di Desa Hilisimaetano secara lengkap dengan harga yang lebih murah, desa ini menawarkan sebuah paket wisata. Ada dua jenis paket wisata yang bisa dipilih.

Pertama, paket Journey to the past, yaitu paket wisata yang memperkenalkan tradisi, sejarah dan budaya Hilisimaetanö sambil berwisata alam.

Kedua, paket Kids Cultural Heritage, yaitu paket wisata untuk anak-anak dan remaja. Dalam paket ini, pengunjung akan diajak untuk mengenal budaya sedari dini, sambil berinteraksi langsung dengan sanggar cilik Hilisimaetano.(#)

Related posts